TWOH's Engineering

TWOH's Engineering
belajar tutorial android dan java
Showing posts with label persona. Show all posts
Showing posts with label persona. Show all posts

Wednesday, December 15, 2010

Bagaimana Caranya Membuat Sesuatu atau Seseorang, Hilang Dari Pikiranmu

Well, sudah lama saya tidak menulis notes motivasi. Kesibukan kuliah dan bermain membuat saya sejenak melupakan soal motivasi, melupakan tentang orang-orang di luar sana yang ter-demotivated karena berbagai hal. Bertahanlah, kamu masih punya masa depan yang membentang luas, dan suatu saat, akan ada saatnya dimana kamu akan menertawakan dirimu di masa lalu, sembari berkata: "Aku waktu itu lucu sekali."

Oke, saya barusan chatting dengan seorang teman wanita dan dia minta beberapa nasihat tentang bagaimana melupakan mantan pacarnya setelah mereka putus. Kadang, ada saat dimana saya juga ingin melupakan suatu hal(atau seseorang) di masa lalu, jadi saya punya beberapa saran, yang terbaik adalah seperti ini.





The Problem

Saya benci kata 'problem', itu mengisyaratkan kalau ada sesuatu yang negatif yang harus kita hadapi dan itu mempunyai potensi untuk membuat kita 'jatuh'. Saya lebih memilih gaya berpikir Echkart, 'antara menghadapi masalah, atau melupakan masalah itu'. Bagaimanapun juga, menggunakan kata 'problem' mungkin cara terbaik untuk langsung ke inti masalah.

Masalahnya adalah kita ikut jatuh dikarenakan masalah kita, karena kisah-kisah kita sendiri, dan kita berpikir soal itu terus-menerus tanpa henti. Masalah bisa menjadi sangat menjengkelkan sampai kita akan melakukan apapun untuk mengatasinya dan membuatnya menghilang dari pikiran kita, masalah bisa menjadi sangat menjengkelkan sampai kita secara harfiah akan melakukan apapun untuk melupakannya. Jika kemudian hal itu sampai pada ingin melupakan sesuatu dari pikiran kita, maka itu juga bisa dibilang masalah.

Memikirkannya secara terus-menerus akan membawa kita semakin stress, tapi cobalah melihat hal tersebut dari sudut pandang yang berbeda:

Masalah memberikan kita kesempatan untuk lebih mengenal diri kita
Masalah memberikan kita ijin untuk tidak berubah
Masalah mengajari kita cara berpikir rasional kenapa hal-hal tidak berjalan dengan baik

Walaupun kita membenci masalah kita, kita juga mencintainya pada saat yang bersamaan. Maksud saya bukan lantas pada saat bangun tidur kita semua berpikir, "Wohoo, aku punya masalah hari ini", tentu saja tidak. Bagaimanapun, secara tidak sadar semua poin-poin di atas adalah benar, masalah kita adalah kisah kita, dan saya akan memberitahu Anda dengan jelas apa arti semua itu.

Kamu Adalah Bukan Kisah-mu

Kamu jelas-jelas bukanlah kisahmu. Kisahmu bisa apapun, dan semua kisah-kisah itu "milikmu". Ada beberapa contoh sederhana :

Bagaimana hubunganmu di masa lalu membuatmu takut menjalin hubungan yang baru
Bagaimana kejadian buruk di masa lalu telah merusak masa depanmu
Bagaimana kecerdasanmu yang tidak seberapa membuatmu susah mencari uang
Bagaimana situasi hidupmu membuatmu tidak bisa berubah

Semua orang mempunyai kisahnya masing-masing, dan hanya beberapa orang yang tahu cara untuk putus hubungan dengan kisah-kisahnya, mereka menyadari bahwa semua itu tidak membuat mereka menjadi dirinya sendiri. Mereka menyadari kalau kisah-kisahnya tidak mengendalikan masa depan mereka. Bagaimana kisah saya? Saya drop-out kuliah, saya bekerja di toko baju murahan selama dua tahun dan saya tidak mempunyai pendidikan yang tinggi. Apakah semua itu lantas menghentikan saya? Tidak, demi neraka!(Hell no!).

Melangkahlah, lakukan sesuatu yang berbeda. Saya bekerja keras untuk menjadi pemasar internet yang terbaik selama lebih dari tiga tahun dan sekarang saya ada di posisi yang sangat hebat, tidak begitu jauh dari 'bekerja secara full time untuk diri sendiri'. Tahukah kamu kalau banyak CEO top di Inggris yang bahkan tidak mengenyam bangku kuliah, saya serius.

Membuatnya Hilang dari Pikiranmu

Jadi sekarang sudah jelas, masalahnya adalah kita terhubung dengan kisah-kisah kita, lantas kita menentukan siapa kita berdasarkan kisah-kisah tersebut. Bagaimanapun juga, kita bukanlah masalah-masalah yang kita hadapi, karena realitanya masalah hanyalah sebuah ilusi. Sesuatu menjadi sebuah masalah hanya jika kita menganggapnya sebuah masalah. Bagaimana kedengarannya?

Sekarang permasalahan yang saya maksud di sini adalah merasa tidak dapat berhenti berpikir tentang sesuatu, tidak bisa membuat sesuatu itu keluar dari kepalamu. Pikirkan betapa gilanya, kita tidak bisa berhenti berpikir tentang sesuatu, pikiran kita telah dikuasai oleh nafsu kita...atau memang sudah terjadi?

Putus Hubungan dari Kisahmu

Jika kamu percaya kalau situasimu saat ini telah menunjukkan siapa dirimu, maka kamu tidak akan bisa lepas dari masalah. Simpel saja, itu semua karena kamu mengidentifikasikan dirimu berdasarkan kisah-kisahmu di masa lalu, kamu memandangnya sebagai referensi sumber dan karena itu juga mereka menjadi sumber dari rasa sakitmu. Saya tidak memiliki ijazah kuliah, tapi apakah kata-kata barusan membuat saya terlihat seperti orang yang tidak cerdas?

Semakin cepat kamu menyadari kalau kamu bukanlah kisah-kisahmu atau situasimu saat ini, kamu akan mulai melihat bahwa ada dunia yang seutuhnya di luar sana, berisi dengan peluang-peluang untuk merubah kenyataan, menunggu agar kamu segera bergerak dan menggenggam erat mereka dengan kedua tanganmu.

Beberapa dari kita menyukai kenangan yang ada di kisah-kisah kita, mereka membantu kita untuk mengenal siapa diri kita. Jika kamu membuang kisahnya orang lain, maka apa yang tersisa? Mungkin, rasa ikhlas menerima semua dengan apa-adanya.

Memutuskan Kapan Kamu Ingin Bebas

Mungkin kamu berpikir saya gila, tapi secara tidak sadar kita tidak ingin untuk putus hubungan dengan kisah-kisah kita, gimana lagi, mereka kan kisah milik kita. Jadi, kamu harus memutuskan apakah kamu ingin terbebas dari hal-hal yang terus-menerus mengganggu pikiranmu atau kamu mencoba untuk bertahan karena, seperti telah disebutkan, mereka membuat dirimu untuk tidak berubah.

Masalah kita dengan cara tertentu, bisa dengan nyata membuat hidup kita lebih mudah. Mereka membuat kita berhenti berusaha untuk melakukan sesuatu yang berbeda, karena kita percaya masalah-masalah tersebut membuat kita tidak bisa berubah dan yah, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Dengarkanlah kata hatimu, temukanlah kalau kamu sebenarnya sangat ingin untuk melangkah dan melupakan tentang sesuatu atau seseorang itu, karena jika tidak maka semua itu tidak akan terjadi.

Terimalah Dengan Lapang Dada

Jika kamu terus menerus berperang untuk melupakan sesuatu, maka kamu sedang berperang dengan dirimu sendiri, dan itu tidak menyenangkan. Menerima apa adanya bukan berarti kamu tidak mencoba atau berubah secara pribadi; tetapi itu hanya bermakna bahwa kamu tidak menolak situasi yang memang terjadi pada saat ini. Jika kamu memikirkan seseorang atau sesuatu, biarkanlah, jangan menolaknya.

Kemudian secara ajaib, atau tidak, pikiran dan tingkah lakumu akan berubah. Hal-hal yang dari dulu mengganggumu akan hilang. Kenapa? Karena kamu menerima kalau hal itu mengganggumu dan jangan biarkan hal itu membuatmu jatuh. Kamu menerima kalau saat ini kamu sedang "diganggu" dan terus melangkah. Cobalah berpikir, apa atau siapa yang sedang mengganggumu, karena kenyataanya itu adalah dirimu sendiri. Dan semakin cepat kamu menolak keadaanmu sekarang ini, maka, itulah saat dimana masalahmu akan datang kembali.

Masih tidak percaya kalau masalah hanyalah sebuah ilusi?

terjemahan bebas : twoh
originally posted by : glen - pluginID


Thursday, March 11, 2010

Kisah Seorang Mahasiswa dan Penjual Makanan

Dalam beberapa hari terakhir ini, saya menemukan beberapa orang yang baik. Mereka benar-benar baik hati.




Sore itu, saya dalam perjalanan menuju kampus ketika tiba-tiba perut terasa lapar. Langsung saja saya mampir ke sebuah warung makan di dekat situ. Ketika sampai di dalam, ibu pemilik warung berkata,“Lauknya tinggal ini aja dek, gimana gak apa apa?” Memang di warung itu terlihat hanya ada sedikit lauk pauk, sebenarnya saya bisa memilih warung yang lain, tapi entah kenapa saya memilih untuk makan di sana.

Ketika saya sedang makan, tiba tiba seorang mahasiswa datang ke warung itu. Kelihatannya usianya hampir sebaya dengan saya. Ibu pemilik warung juga berkata hal yang sama padanya, namun sama seperti saya, dia memilih untuk makan di sini.

Sembari makan, saya mendengarkan percakapan antara, mahasiswa itu dengan ibu pemilik warung. Mahasiswa itu memesan makanan untuk dibawa pulang dan bertanya,“Kalau ini jadi berapa harganya bu?” Si penjual pun berkata kalau harganya 3500.

Mahasiswa itu lantas membatalkan pesanan dan memilih lauk yang lain. Ibu penjual yang ramah kemudian bertanya, “kenapa nggak jadi dek?” Dan mahasiswa itu menjawab, kalau, uangnya hanya 3000 rupiah, atau kurang Rp 500.

Mendengar hal itu, sang penjual pun segera berkata, “Ya udah dek, ninggal lima ratus nggak apa-apa, ini juga sudah mau tutup.”

Namun mahasiswa itu dengan santun menolak tawaran ibu tersebut, dengan alasan takut lupa. Sang penjual yang baik lalu berkata,“Tidak apa-apa atuh dek. Lagian si adek juga kan sering makan di sini.” Mahasiswa itu masih tetap tidak mau berhutang di situ, hingga ibu tersebut merasa tidak enak dan berkata,“Udah dek nggak apa apa. Bener. Adek kayak sama siapa aja, nanti kalau lupa ya ibu yang ingetin.”

Biarpun begitu, si mahasiswa tetap menolak tawaran ibu itu dengan halus, dan memilih menu lain yang harganya 2500 rupiah.

Setelah dibungkus, mahasiswa itu lalu membayar dengan uang 3000 yang dia miliki. Saat hendak mencari uang kembalian, si ibu penjual ternyata tidak mempunyai uang 500 rupiah.

Dan apa yang terjadi? Mahasiswa itu langsung berkta,"Ya udah nggak apa-apa bu. 500 nya ninggal disini saja."

Tentu saja sang penjual merasa terharu dengan kebaikannya. Dan mahasiswa itu pun diberi lauk tambahan yang harganya melebihi uang kembalian 500 rupiah.

Selama ini mungkin kita terus-terusan menerima kebaikan dari orang lain. Alangkah baiknya kalau kita berpikir, "Apa kebaikan yang sudah kita perbuat untuk orang lain?"

Seperti halnya dengan rahmat takterhingga yang diberikan Allah SWT kepada kita. Apapun keadaan kita, kita harus mensyukurinya. Karena di balik itu semua tentunya ada hikmah yang telah Allah SWT rencanakan untuk kita.



Twoh




Thursday, March 4, 2010

Sekolah Dasar Selayang Pandang

Kapan terakhir kali aku mengunjungi SD-ku? Yah, sampai saat ini sepertinya aku tidak pernah ke sana lagi.

Tahun 1996



Aku bersekolah di dua sekolah dasar di kota berbeda, dan itu memberikan banyak pengalaman bagiku, suka dan sedih. SD-ku yang pertama terletak di kota Tegal, kalau tidak salah nama sekolahnya adalah Tegal Sari 1. Pertama kali memasuki bangku sekolah aku diantar ayahku dengan sepeda motor. Layaknya anak kecil begitu melihat penjual mainan yang berjualan di depan sekolah, aku langsung meminta ayahku untuk membeli satu, dan aku akhirnya dibelikan sebuah robot mainan kecil yang bisa berubah menjadi pesawat. Saat itu rasanya senang sekali. Haha

Waktu SD, segalanya masih terasa murah, saat itu uang saku-ku hanya tiga ratus rupiah. Dan itu bisa dipakai untuk membeli tiga buah makanan yang berbeda, atau satu buah makanan seharga 200 rupiah dan es sirup seharga seratus rupiah di kantin belakang sekolah. Rasanya sudah kenyang. Kemudian, karena ayahku sibuk bekerja beliau tidak bisa lagi mengantarku ke sekolah, jadi aku berangkat dan pulang sekolah menggunakan becak langganan. Karena itu, uang saku ditambah menjadi 500 rupiah, waktu itu rasanya senang sekali memegang uang kertas berwarna hijau yang bergambar orang utan. Sekarang uang lima ratusan sudah berbentuk koin, mengingat laju inflasi di Indonesia memang tinggi.

Teman-temanku di sekolah dasar yang pertama, kebanyakan aku sudah lupa namanya. Aku ingat pernah ke rumah seorang temanku, nemanya kalau tidak salah Rudi. Di sana aku cuma bermain Nintendo, dan yang aku ingat waktu itu aku melihat ibunya lagi merokok. Hahaha

Siapa ya teman SD-ku? Saat kembali ke Tegal setelah pindah ke Semarang, aku dipanggil oleh seorang anak kecil di jalan. Mulanya aku tidak kenal, tetapi ternyata itu adalah temanku yang namanya Rendi. Sekarang aku sudah lupa wajahnya.

Waktu kecil aku mempunyai teman bermain, namanya Dewi. Dia perempuan yang energik dan ceria. Usianya lebih tua sekitar dua tahun dariku. Rumahnya terletak persis di samping rumahku, karena itu kami sering sekali bermain bersama. Saat kecil aku adalah laki-laki yang pemalu dan pendiam, dia lah yang berperan sebagai kakak, dan selalu melindungiku ketika aku dijahili oleh teman-temanku yang lain.

Ketika pertama kali belajar bersepeda, aku menggunakan metode tiga roda. Semakin mahir, roda yang ada di samping kanan dan kiri kemudian dilepas satu persatu. Kurang lebih aku belajar selama seminggu, jatuh bangun dan akhirnya aku bisa. Setelah bisa aku langsung mengajak Dewi untuk bersepeda bersama-sama. Namun saat itu dia keluar dengan sepeda ayahnya, semacam sepeda laki-laki model dahulu yang sudah menggunakan gear untuk berpindah gigi. Saat itu aku yang menggunakan sepeda anak-anak kagum melihat Dewi menaiki sepeda itu dengan mahirnya. Kemudian ia pun menyuruhku untuk menaiki sepeda tersebut, mulanya aku takut, apalagi dengan sadelnya yang begitu tinggi. Tapi, seorang lelaki sejak kecil sudah memiliki harga diri di depan wanita, jadi aku tetap menaikinya walaupun dengan berkeringat dingin. Dan.. aku bisa mengendarainya! Aku pun melaju beberapa meter di depannya, dan ketika ingin berbelok, aku jatuh. Hahaha, kami pun tertawa bersama.

Dewi satu SD denganku, ketika aku masih kelas satu, dia sudah kelas tiga. Sesekali aku lewat kelasnya dan mengobrol hanya kalau kebetulan bertemu di depan kelas. Dia selalu iri melihat nilai-nilai raportku yang jauh di atas nilainya saat dia masih kelas satu, dua dan tiga. Kalau sudah begitu, dia lalu bercerita tentang mata pelajaran kelas 4,5, dan 6 yang jauh lebih susah sambil menakut-nakutiku. Kami berpisah saat aku kelas tiga, ayahku yang sudah di Semarang mengalami kecelakaan saat memperbaiki atap. Jadi saat itu juga kami sekeluarga langsung menuju Semarang, perpisahan yang sangat mendadak. Tidak ada kata perpisahan yang kuucapkan untuk teman-teman SDku, dan untuk dirinya. Setelah ayahku membaik, aku kembali ke Tegal namun tidak lama. Saat bertemu dengannya lagi, dia berkata kalau dirinya kesepian karena tidak ada lagi teman bermain. Aku hanya diam dan langsung mengajaknya bermain seperti biasa, melihat monyet peliharaan tetangga, dan membaca buku. Yang terakhir dia mengirim surat padaku saat aku sedang sakit di Semarang. Isi suratnya.. Ehm aku lupa. Yang aku ingat dia bercerita tentang sepeda yang rusak, dan dia berharap aku cepat sembuh.

Kenangan masa kecil yang indah, tidak ada rasa pamrih, yang ada hanyalah perasaan polos dan kasih sayang yang tulus.

NEXT





Kau Tahu, Mereka Mengatakan Kecepatannya 5 Centimeter Per Detik... Kecepatan Bunga Sakura yang Gugur

Melaksanakan kehidupan seseorang sendirian, kesedihan berkumpul disini dan disana dalam selimut yang dijemur untuk dikeringkan, sikat gigi di kamar mandi dan catatan catatan pesan di handphone.

"Aku masih suka kamu bahkan sekarang."





Jadi kutulis pada gadis yang kukencani sejak tiga tahun yang lalu di emailnya



"Tapi Meskipun kita bertukar ribuan pesan..."



"...hati kita mungkin tidak akan bergerak bahkan 1 centimeterpun mendekat bersama"


Pada tahun - tahun terakhir aku telah tertempa tanpa ada penyesalan, hanya untuk menyentuh apa yang tidak bisa kuraih. Email itu adalah petunjuk pasti kenyataan yang ada.

Tanpa kepastian akan sumbernya berasal

Pikiran liar ini bergelora dan aku terus bekerja

Ketika akhirnya aku mengerti, hatiku telah terlanjur mengeras dari sedikit demi sedikit kehilangan harapan masa muda



Dan pada suatu pagi

Ketika aku pada akhirnya sungguh sungguh menyadari...

Bahwa aku telah kehilangan segala sesuatu yang indah

Aku tau bahwa aku telah ada ada diambang batas




Kemarin aku bermimpi

Sebuah impian yang terjadi di waktu lalu

Dalam mimpi itu kita masih belum berumur 14 tahun, kita berada di daerah yang luas yang tertutup salju.

Lampu - lampu rumah menyebar di kejauhan, pemandangan yang mempesona

Kita berjalan di karpet salju yang tebal tapi tidak meninggalkan jejak sedikitpun.

Dan seperti itu



"Suatu hari Kita akan melihat bersama bunga sakura mekar lagi"



Kita berdua tanpa ada keraguan sedikitpun

Itu yang kita pikir


One More Time, One More Chance




Aku selalu mencari dirimu untuk muncul di suatu tempat
Di seberang peron stasiun, di etalase etalase pinggir jalan
Meskipun aku tahu engkau tidak mungkin ada di tempat seperti itu

Jika impianku menjadi kenyataan aku akan berada di sisimu sekarang
Tidak ada sesuatu yang tidak bisa kulakukan
Aku akan menempatkan semua pada tempatnya dan kau kupeluk erat

Jika aku ingin menghilangkan kesepian, sembarang orang seharusnya sudah cukup
karena pada malam bintang seakan akan jatuh
Aku tidak bisa membohongi diriku

One More Time, oh musim jangan berubah
One more time ketika kita saling mengacaukan

Aku akan selalu mencari dirimu untuk muncul di suatu tempat
Di persimpangan jalan atau ditengah mimpi
Meskipun aku tau engkau tidak mungkin ada di tempat seperti itu

Jika keajaiban terjadi disini aku akan menunjukkan saat ini juga
Pagi yang baru dimana aku akan memulai
dan katakata yang tidak pernah kuucapkan "Aku cinta kamu"

Ingatan musim panas berputar
Denyutan yang tibatiba menghilang

Aku akan selalu mencari dirimu untuk muncul di suatu tempat
Di kota saat senja, di jalan Sakuragi
Meskipun aku tau engkau tidak mungkin ada di tempat seperti itu

Jika keinginanku menjadi nyata aku akan ada di sisimu saat ini juga
Tidak ada sesuatu yang tidak bisa kulakukan
Aku akan menempatkan semua pada tempatnya dan kau kupeluk erat

Aku selalu mencari pecahan dirimu di suatu tempat
Di toko sepanjang perjalananku, di sudut kios penjual koran
Meskipun aku tahu engkau tidak mungkin ada di tempat seperti itu

Jika keajaiban terjadi disini aku akan menunjukkan saat ini juga
Pagi yang baru dimana aku akan memulai
dan kata kata yang tidak pernah kuucapkan "Aku cinta kamu"

Aku selalu mencari senyumanmu berada muncul di suatu tempat
Di perlintasan kereta menunggu kereta ekspres lewat
Meskipun aku tahu engkau tidak mungkin ada di tempat seperti itu

Jika hidup kita bisa diulang aku akan berada di sisimu setiap waktu
Aku tidak akan meminta apapun
Tidak ada yang berarti kecuali dirimu


***********************************************************

Salam Tohno Takaki sama, Saya sangat menyesal tidak menghubungimu untuk sementara waktu.
Panas sekali musim panas di sini...namun

Masih lebih dingin dibandingkan Tokyo.

Tapi memikirkan hal itu, saya lebih suka musim panas yang gerah di Tokyo.

Aspal yang terlihat seakan akan meleleh, gemerlap gedung pencakar langit di kejauhan, dan AC yang terlalu dingin di pusat perbelanjaan dan kereta bawah tanah.


Terakhir kita bertemu di upacara perpisahan sekolah dasar...
sudah setengah tahun sejak saat itu

Hey...Takaki kun, Masihkah engkau ingat diriku?


***********************************************************

Salam untuk Takakikun!

Terimakasih untuk balasannya. saya sangat gembira mendengarnya!
Musim gugur segera datang, benar? daun musim gugur disini sangat indah
Kemarin, aku memakai sweater pertamaku tahun ini.

Aktifitas club telah berjalan lebih awal di pagi hari. Karenanya aku menulis surat ini di kereta
Aku baru saja memotong rambutku

Sekarang jadi sedikit pendek hingga telingaku terlihat

Bila kita bertemu, Kamu mungkin tidak bisa mengenaliku lagi ya?
Kamu juga berubah sedikit demi sedikit bukan?

***********************************************************

Salam. Cuaca dingin berlanjut. Bagaimana kabarmu?

Disini telah turun salju tak terhitung
Aku harus memakai pakaian yang tebal ke sekolah karenanya

Di Tokyo belum turun salju bukan?

Aku belum terbiasa untuk berjalan jalan

Aku memperhatikan laporan cuaca di Tokyo juga
Sepertinya akan turun hujan...
Tapi berat juga terkurung dalam ruangan


***********************************************************

Dengan segala hormat, Aku harap kamu selalu sehat
Salam hangat untukmu, Takaki - kun!

Aku sangat gembira kita berjanji untuk bertemu pada 14 Maret

Setahun telah berlalu sejak terakhir kita bertemu

Bagaimanapun aku cemas memikirkannya

Ada pohon sakura besar dekat rumahku
Selama musim semi, Itu mungkin tempat dimana...

...bunga sakura gugur 5 centimeter per detik..

***********************************************************





Friday, February 5, 2010

Sebuah Omong Kosong dan Keindahan Stereogram

Sekretaris bisa menjadi bos. Tetapi seorang bos tidak bisa menjadi sekretaris.



Forcing conversation also qualifies as another form of desperate
interest.
Me: "What's your name?"
Her: "Kate."
Me: "Where are you from?"
Kate: "Sumatra."
Me: "What part of Sumatran?"
Kate: "The Northern part."
Me: "Where."
Kate: "You wouldn't know it."
Me: "Come on, I’ve been all over."
Kate: "I gotta go."

I’m acting un-cool. But, if not forgivable, it’s
understandable. Once these question-trains get started they are
generally unstoppable. I'm asking a series of uninteresting,
close-ended questions and getting nothing unique in return. Yet I
show desperate interest by simply plowing on with more
questions.

Here is an improved version.
Me: "What's your name?"
Kate: "Kate."
Me: "Nice to meet you Kate. My name is Wayne. Give me
the rock."
(Laughing, Kate gives me the rock.)
Me: "Keep it green."
Her: "What?"
Me: "Nothing, I'll explain it later."
She giggles.
Me: "I like your laugh. Where are you from?"
Kate: "The northern part of Sumatra. Near the tip."
Me: "That's cool. I always wanted to visit there. Great
fishing, they say."
Kate: "Yeah, my dad runs a fishing boat."
Me: "That's it. I'm going fishing with your dad. Well, how
in the world did you end up in Bandung, West Java?"
Kate: "It's a long story."
Me: (looking at my watch) "I’ll give you five minutes. I'm all
ears."
Kate: (smiling) "Well my sister moved to..."

I’m not forcing conversation here. I’m sandwiching my questions between rewards and statements about myself. I’m
also careful not to double up questions. All together these things
make her feel comfortable enough to say and do some unique
things, which in turn allows me to show some genuine interest.

Portray yourself as a desirable man who is interested
in the unique qualities of a woman and not generically
interested in women.




Itulah sedikit kutipan dari e-book karangan Wayne Elise yang baru kubaca beberapa halaman. Intinya adalah perbandingan antara mereka yang pintar bermain kata dengan mereka yang kurang pintar bermain kata. Haah, kurebahkan badanku sembari tiduran memandang langit-langit kamar, tiba-tiba hapeku bergetar. Ternyata ada sms dari seorang temanku,"Woy, jadi kan? Gw udah di depan rumah lu!" Kulihat ke jendela, ternyata benar si NeverTiredforApproachingWoman(Neawo) sudah standby di depan rumah. Orang jawa, tapi bahasa jakarta. haha "Mlebuo, aku tak adus sek!", teriakku dari dalam.

"Jadi kemana kita bro?", tanyaku di perjalanan. "Yeah, seperti yang kubilang kemarin! Haha.. ."

Kemarin?? Hmm, kucoba mengingat-ingat. Oh iya, semua bermula dari pertemuan kami dengan seorang teman yang kuliah di Politeknik. Entah karena apa pembicaraan kami menuju ke gadis-gadis yang nantinya menjadi sekretaris dan akuntan,"Rok mereka..." Begitulah kata temanku, dan kami akhirnya sampai di sini untuk mebuktikannya. Di prodi D3 Komputerisasi Akuntansi.

Sampai di Politeknik, kuajak temanku ke kantin untuk makan. Maklum sudah siang dan tadi pagi aku baru sarapan sedikit. Setelah makan, datanglah temanku yang kuliah di Politeknik, "Ayo bro, waktu kalian tepat. Sekarang waktunya mereka selesai kuliah. C'mon!" Aku dan Neawo pun beranjak dari kantin dan mengikuti teman kami yang akan menunjukkan kelas tempat D3 Komp. Akuntansi. Sial, aku sebenarnya merasa malas, apalagi aku tidak punya kenalan ataupun koneksi di sini. Tapi apa boleh buat, sekali-kali melihat kondisi Politeknik di kota sendiri tidak apa-apa kan, apalagi setelah ini katanya kami akan di ajak melihat UKM radio kampus di politeknik ini. Mereka mengudara, tetapi tidak memiliki pemancar. Itulah yang membuatku penasaran.

Kami berjalan.. dan akhirnya hampir sampai di tempat tujuan. Bersamaan dengan itu, beberapa orang mahasiswi sudah keluar dari kelas. Mereka cantik-cantik dan stylish. Mengenakan blouse lengan pendek, rok di atas lutut, dan sepatu high heels. "Sepertinya bos-bos sekarang menginginkan sekretaris semacam ini, kasian istri mereka.. haha," pikirku dalam hati.

Melihat semua itu, tiba-tiba temanku berkata,"Sial, kenapa atmosfernya jadi gak enak gini.. ." Dia pun nampak sedikit grogi. Satu rombongan, dua rombongan mahasiswi lewat, dan kami cuma terpaku menatap mereka. We are just a bunch of coward! Aku lantas mencari tempat duduk dan kami mendapat bangku panjang tepat manghadap koridor di mana para mahasiswi lalu-lalang. Kami briefing sedikit,"Ne, katakan padaku, apa tujuan awal kita ke sini? Apa??"
"Yeah... mencari kenalan!," jawab Neawo.
"Kalau begitu sebagai laki-laki bukannya matipun kita harus bisa mencapai tujuan itu, kan ya..!", kataku lagi menyemangati.
"Yeah.. I'm confident.. I'm confident.. JUst be YOURSELF! Be Confident!!", Neawo mulai mengucapkan kata-kata pembangkit semangat dan mindsetnya.
Kupikir semua baik-baik saja. Tetapi 15 menit berlalu dan belum ada satupun dari kami yang mengetahui satupun nama dari mahasiswi-mahasiswi yang cantik juga stylish itu. Kelas pun sepi, dan kami akhirnya pulang. Di perjalanan kami menyesali kepengecutan masing-masing.
"Sial Twoh, kenapa lu juga diem aja tadi?", tanya Neawo. "Sudah kubilang aku ingin mengamati dulu, kalo ada yang menarik baru bertindak.. haha,"kataku beralasan. Mana mungkin kukatakan kalau yang seperti ini tidak intelek. Tiba-tiba Neawo mengatakan sesuatu,"Kalau kita hanya duduk tadi, itu nyaman ya?"
"Apa maksudmu?"

"Kebanyakan pria lebih memilih untuk tidak meninggalkan zona nyaman (comfort zone), mereka selalu takut untuk mendekati zona berbahaya. Seperti kita tadi, hanya duduk melihat adalah zona nyaman menurut kita karena kita bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi. Sedangkan para mahasiswi itu bukan zona nyaman, saat kita mendekati mereka kita nggak tahu gimana reaksi mereka bakalan. Padahal di situlah letak tantangannya!"

Mendengar perkataan dari Neawo aku jadi sedikit mengerti. Kurasa di contoh sehari-hari pun banyak seperti itu, mereka yang hanya bermain di zona nyaman. Di bidang bisnis banyak contohnya, misal seorang direktur kebanyakan enggan meninggalkan jabatannya, atau seorang karyawan yang sukses sulit menentukan pilihan untuk pidah pekerjaan. Mereka berpikir, "Kami sudah nyaman dengan kondisi seperti ini." Mereka tidak tahu kalau ada banyak posisi yang lebih baik dari posisi mereka saat itu. Orang yang berani keluar dari comfort zone adalah orang yang sukses, karena mereka risk-taker, berani mengambil resiko.

Kami pun terus berjalan menuju UKM Radio Kampus, di sana kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan oleh seorang perempuan sambil tersenyum ramah,"Temennya An, silahkan masuk aja." Namun kami menolak ajakannya, karena langit telah kelabu dan kami lupa bawa mantel. Saatnya pulang.

"Dari mana saja kamu sms nggak dibales~"
"Tadi jalan-jalan sebentar ma temen"
"Kemana~?"
"Ke Politeknik, cewek disana cantik-cantik juga ternyata.. Haha"
"..., Yah, waktu saya kuliah di Sekolah Tinggi temen satu kos saya juga selalu berdandan cantik sekali, mahasiswi ST Perbankan."
"..."
"Mereka memang lebih cantik dari anak-anak Universitas yang kebanyakan nampak lugu. Tapi, otak mereka siapa tahu~?"
"Haha.."
"...itu semua tergantung pilihanmu, mau cari yang cantik tapi otak pas-pasan atau kebalikannya?"
"Hmm, yah.. Tentu saja yang.."
".. tapi yang terpenting dari semua itu, kau tahu? Mereka yang memiliki Inner Beauty adalah yang paling cantik.."
"Maksudnya?"
"Saat kau memandang wajahnya, semakin lama, semakin kau menyukainya, semakin menyenangkan~"
"Kelihatannya simple, tapi susah ya? Saat ini, cuma kamu"

Kuakhiri percakapan itu dan mengambil buku 3D Stereogram, kuperhatikan gambar yang acak-acakan dan tak beraturan itu. Kuperhatikan terus, lama-lama muncul sebuah gambar yang sangat menakjubkan, yang sangat indah. Akhirnya aku bisa melihat keajaiban dari sebuah stereogram, keindahan yang muncul dari sesuatu yang abstrak dan kabur.




Thursday, February 4, 2010

Geografi Itu Penting

Mungkin banyak orang berpendapat bahwa kuliah di jurusan geografi itu susah untuk mencari kerja dan tidak banyak dibutuhkan, tapi lain halnya dengan bapakku yang menyuruhku untuk mengambil jurusan geografi saat mendaftar di universitas.

Sebelum aku berkuliah di jurusanku yang sekarang ini, aku diterima pada program studi Geografi di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Namun kesempatan itu tidak aku ambil, karena Jakarta dan Yogyakarta itu kota yang panas. Aku lebih memilih kota yang dingin dan berhawa sejuk. Hehe..

Geografi itu penting untuk dipelajari karena Indonesia terletak pada ring of fire, yaitu suatu kawasan yang dikelilingi oleh banyak gunung berapi . Salah seorang temanku ada juga yang diterima pada jurusan Geografi Universitas Indonesia, dan dia mengambilnya. Padanya aku berkata bahwa nasib Indonesia terletak di tanganmu. Kemudian lulus SMA kami berpisah, dia ke Jakarta, aku ke Bandung.

Tidak lama di Bandung, Indonesia kemudian kembali dilanda gempa bumi, di Padang, Tasikmalaya, dan beberapa kota kecil lainnya. Saat gempa di Tasikmalaya, getarannya terasa sampai Bandung. Saat itu aku baru pulang kuliah dan akan masuk ke dalam kosan, baru mau masuk, entah kenapa orang-orang rumah tempat aku kos malahan pada keluar, dan sesaat kemudian aku baru sadar kalau ada gempa. Tanah mulai bergetar, orang-orang berteriak-teriak menyebut asma Allah.

Aku melihat ke atas, kabel listrik SUTET bergoyang-goyang kesana kemari, air di selokan berombak, dan rumah-rumah seakan mau rubuh. Sekitar 10-15 menit kemudian, akhirnya gempa berhenti. Beberapa bulan kemudian gempa melanda kota Padang dan sekitarnya. Saat itu aku merasa sadar bahwa penting bagi orang Indonesia untuk mempelajari Geografi. Tetapi aku tidak menyesal telah meninggalkan kesempatan untuk belajar geografi, karena jurusanku yang sekarang tidak kalah pentingnya untuk dipelajari, yaitu Computer Science/ Teknik Informatika. Walau begitu, aku masih suka geografi dan menonton Tokyo Magnitude 8.0.

Saat Saat Menerima Beasiswa

Suatu hari ayahku berkata, “Fis, kamu kucarikan beasiswa dari kantor bapak gimana?” Mendengar perkataan seperti itu tentu saja aku langsung berkata mau. Apalagi mengingat biaya kuliah di IT Telkom yang cukup mahal bagiku. Tentunya dengan mendapatkan beasiswa, maka aku bisa mengurangi biaya kuliah sekaligus membantu orang tua.




Maka setelah ujian nasional aku mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa itu, walaupun rasanya agak susah juga karena ada beberapa macam seleksi untuk mendapatkannya. Seleksi pertama adalah hasil ujian nasional, jika hasilnya bagus maka akan dilanjutkan ke seleksi kedua yaitu ujian tulis. Nah, inilah yang paling susah!

Sesudah pengumuman hasil ujian nasional yang melegakan. Segera ayahku mengirimkan copy nilai ke kantor untuk seleksi beasiswa, dan ayahku berkata kalau berhasil lolos nanti beliau akan diberitahu, kalau tidak lolos berarti tidak akan ada pemberitahuan. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, namun tetap belum ada pengumuman dari kantor ayah. Kami pun sudah hampir lupa akan beasiswa itu dan aku sudah menetapkan tanggal berangkat ke Bandung, tanggal 1 Agustus. Sudah tidak ada lagi yang peduli tentang beasiswa. Ketika pada saat aku sedang membeli sate ayam di warung, ayahku mengirim sms, “Fis, kamu berangkat ke Bandungnya diundur. Soalnya kamu ada tes beasiswa!” Alhamdulillah, ternyata aku berhasil lolos seleksi pertama dan besok aku akan menjalani seleksi kedua yaitu tes tertulis!

Hari-hari menjelang tes tertulis pun dimulai. Karena hanya diberikan waktu kurang lebih satu minggu sampai tes dimulai. Aku menjadi kurang siap dalam belajar. Apalagi saat itu akhir bulan Juli, sudah sekitar tiga bulan dari saat terakhirku memegang buku pelajaran SMA. Ditambah lagi entah karena nervous atau malas belajar atau kecewa karena berangkat ke Bandung diundur, kecewa karena memikirkan kenapa pengumumannya harus diberitahukan lama sekali. Kenapa juga ujian harus tanggal satu. Alias, karena banyak pikiran. Aku pun jatuh sakit! Hehehe (Kenapa sakit kok malah ketawa?) Karena sakit aku pun hanya belajar seadanya, malah bisa dibilang tidak belajar. Hari demi hari kuhabiskan di tempat tidur. Hingga akhirnya tibalah tanggal 31 Juli, dan aku masih belum sembuh benar. Mau bagaimana lagi, besok sudah pasti aku mengerjakan tes tertulis seleksi beasiswa dengan tubuh kurang fit. Pagi harinya aku dianta bapak ke Hotel Santika Semarang, di sanalah tempat seleksi akan dilaksanakan. Tetapi kami tiba terlalu awal karena ternyata tes baur akan dilkukan sekitar 2 jam lagi. Pada saat itu mau tidak mau aku harus menunggu, sembari menunggu aku pun berbincang-bincang dengan seorang panitia tes. Iseng aku pun bertanya,”Pak, yang ikut seleksi beasiswa berapa orang?” Dan jawaban si bapak tidak kalah iseng,”Hmm, kalo sama kamu, totalnya yang ikut empat orang.” “A…Apa!”, kataku dalam hati. Mendengarnya aku sungguh kaget dan tidak berani menanyakan berapa jumlah yang akan diambil untuk mendapatkan beasiswa.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya para peserta tes mulai datang. Tiga orang laki-laki termasuk aku. Dan yang seorang lagi perempuan. Salah seorang yang laki-laki adalah lulusan STM dan katanya dia sudah pernah magang di hotel ini. Pantesan setiap berpapasan dengan pegawai hotel dia selalu menyapa. Kemudian tes pun dimulai, materinya adalah Pengetahuan Umum, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Soal yang relatif sulit adalah pengetahuan umum, karena siapa sangka pelajaran Sejarah ada di dalamnya! Walaupun begitu semua soal tetap kuselesaikan dan berusaha kukerjakan dengan baik. Setelah tes, kami pun makan siang bersama di kantin hotel. Kemudian aku pun pulang ke rumah untuk istirahat. Karena tanggal delapan aku harus segera pergi ke Bandung, untuk kuliah.

Sesampainya di Bandung, aku langsung berhadapan dengan sesuatu yang bernama PDKT. Tidak mempunyai teman cewek Berhadapan dengan lingkungan baru.. Semua itu membuatku lupa akan masalah beasiswa, hingga pada suatu hari. Entah hari apa aku lupa, aku mendapat sms dari bapakku yang isinya perihal beasiswa. Kubaca dan ternyata aku berhasil menerima beasiswa itu. Alhamdullilah! Mulai sekarang harus belajar giat!

Sunday, November 15, 2009

GENIA FESTIVAL : Final Day of Dugderan Festival

Apa yang membedakan kota Semarang dan kota besar lainnya? Khususnya pada saat manjelang bulan Ramadhan? Jawabnya gampang, yaitu: dugderan.

Dugderan adalah semacam perayaan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, yang diadakan selama kurang lebih seminggu sebelum Ramadhan, dan hanya ada di kota Semarang!

Dugderan tahun 2008 ini, atau tahun 1429H diadakan di Masjid Agung Jawa Tengah, biasa disebut MAJT. Kalau dipikir, bagaimana jadinya jika perayaan besar semacam dugderan diadakan di kawasan Masjid Agung, yang juga besar, namun, tidak memiliki akses jalan yang memadai? Hmm, yah seperti yang saya alami hari Minggu kemarin.

Minggu, 31 Agustus 2008 sore, saya dan Ayah berboncengan menuju MAJT, bukan untuk menyaksikan perayaan dugderan, melainkan untuk mengambil jadwal imsakiyah bulan Ramadhan untuk keperluan pekerjaan. Kami berdua sudah tahu, karena ini hari terakhir, jika lewat rute biasa atau samping Makro, jalanan pasti macet, karena itu untuk menghindari kemacetan, kami berdua memilih lewat jalan Supriyadi kemudian belok kiri di lampu merah dan akan langsung sampai di depan MAJT.

Dugaan kami ternyata salah, jalan tersebut juga mengalami kemacetan yang sangat parah hingga depan MAJT bahkan motor saja susah untuk lewat. Bosan menunggu, kami pun banting setir lewat jalan tikus di perumahan padat penduduk depan MAJT. Kata warga jalan itu nanti tembusnya tepat di depan gerbang masuk MAJT, ternyata benar, kami sudah menemukan jalan keluar, namun masya Allah, di pertigaan jalan keluar tersebut macetnya sungguh luar biasa. Jalan yang hanya lebih kecil sedikit dari jalan gajah itu dijejali bermacam-macam kendaraan, mulai mobil pick up, motor, sepeda penjual es krim, sampai penjual balon karbitan. Melihat kemungkinannya hampir nol untuk bisa parkir di dalam area MAJT, kami pun memutuskan untuk parkir di halaman rumah penduduk yang memang berubah menjadi tempat parkir sementara. Setelah membayar uang parkir sebesar tiga ribu rupiah, kami lalu berjalan kaki merangsek masuk ke dalam area MAJT, bahkan, sungguh, jalan kaki pun susah! Sampai ke dalam MAJT, saya melihat kerumunan massa yang begitu banyaknya, orang-orang dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang biasanya datang rombongan dengan menyarter bus, daihatsu atau bahkan truk, mendominasi kerumunan orang tersebut. Mungkin mereka ingin melaksanakan tarawih pertama di Masjid Terbesar di Jateng ini, ya? Atau ingin mendengarkan sambutan dari Pak Bibit? Setelah mendapatkan jadwal imsakiyah, kami pun mampir makan bakso di kafetaria MAJT, di saat makan, tiba-tiba terdengar suara letusan yang amat kuat, orang-orang di sekitar kami pada kaget, bahkan ada yang berkata kalau itu letusan dari tabung gas penjual balon yang meledak. Padahal, tentu saja itu adalah suara letusan meriam tanpa peluru yang digunakan untuk menandai datangnya bulan suci Ramadhan. Hanya saja, letusan yang biasanya terdengar sebanyak tujuh kali, saat itu hanya terdengar sebanyak empat kali saja.

Setelah itu, kami berjalan ke tempat parkir untuk kembali pulang. Sepintas terlihat arak-arakan peserta dugderan yang terakhir diiringi terbangan. Perjalanan pulang relatif mudah tidak begitu macet, kami pulang lewat daerah tambak boyo yang tembus ke arteri, dari arteri ke arah selatan menuju Jalan Majapahit, kemudian kami belok di depan BLK untuk pulang ke rumah kami yang terletak di daerah Kedungmundu.

Itulah sedikit pengalaman mengenai hari terakhir perayaan dugderan. Namun yang amat disayangkan adalah saya melihat banyak sampah dimana-mana, bahkan sampai pada altar di bawah payung elektronik.

Dengan berakhirnya festival tersebut, menandai datangnya bulan suci Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakan, dan semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Amin.

GENIA FESTIVAL : Kembalinya Blackcat ke Dunia Maya.

Setelah saya memposting tulisan yang pertama ke dalam blog ini, karena bingung, saya pun memutuskan untuk vakum beberapa saat, bagi saya memposting blog adalah hal yang agak sulit… Karena saya masih memakai jasa Warung Internet untuk browsing, dan karena menurut saya, banyak hal di hypertext transfer protocol yang lebih menarik untuk dijelajahi, daripada sekadar mengurusi blog tersayangku ini..(^_^;)
Namun, semua itu berubah setelah Bapak saya memutuskan untuk berlangganan high speed internet acces. Saya masih ingat, waktu itu hari Jum’at tanggal 22 Agustus 2008, pada siang hari, saya angkat telepon dari Bapak yang mengatakan,”Fis, nanti sekitar jam lima ada petugas dating buat pasang Spidi. Jangan kemana-mana ya”. Sontak saya pun menjawab,”Berarti nanti nggak berangkat les, pak?”. Karena kebetulan pada sore hari itu saya ada les di sebuah bimbel, tetapi ternyata Ayah tetap menyuruh saya berangkat dengan alasan les itu penting dan tidak boleh ditinggalkan. Maka, sore itu pun saya berangkat les dengan pikiran yang berkecamuk bahwa:’pulang les nanti bisa internetan, di rumah!’.
Namun, saat sedang asyik-asyiknya mendengarkan penjelasan tentang integral, tiba-tiba Motorola saya berbunyi, ada pesan masuk. Pesan tersebut lantas saya baca, ternyata dari Ayah yang mengatakan bahwa petugas yang ingin memasang internet meminta untuk meng-unistall Ubuntu yang ada di komputer saya, karena dikhawatirkan nanti bisa ‘nyrimpeti’. Saya pun bergegas pulang lebih awal untuk membereskan masalah yang bisa-bisa, mengaburkan impian saya untuk memiliki akses ke dunia luar dari kamar sendiri. Alhamdullilah, ternyata setelah berdiskusi dan sharing panjang lebar, ditambah sedikit penjelasan dari guru TIK, ternyata Ubuntu yang biasanya membuat gangguan adalah yang dipasang di perkantoran, jadi punya saya tidak masalah. Dan pemasangan pun berjalan lancar. Sejak saat itu, komputer bernama TWOH_DEVICE, dengan IP address sekian telah melesat bersama saya mengarungi samudra HTTP yang amat luas, indah, sekaligus manyimpan berjuta-juta bahaya mematikan yang selalu mengancam setiap saat…
Singkat kata, kemudian saking asyiknya berinternet, kuota yang seharusnya untuk satu bulan, hampir habis hanya dalam sepuluh hari saja. Puncaknya pada hari Jum’at malam, saat itu saya browsing dari pukul 19.00 hingga hampir pukul 00.00 tengah malam! Yang kemudian berakibat saya dimarahi habis-habisan oleh Ayah…Xp

GENIA FESTIVAL : Kembalinya Sang Speedy

GENIAFEST
Suatu hari aku dikejutkan oleh sms dari ibuku yang mengabarkan bahwa koneksi internet di rumah kami telah dicabut. Karena adikku yang berlebihan memakainya hingga kelebihan kuota. Yah padahal speedy tersebut adalah satu-satunya akses ke dunia maya dari rumahku. Tetapi mau bagaimana lagi karena adikku telah menginjak kelas 3 SMP dan harus giat-giatnya belajar untuk ujian akhir nasional. Tetapi anehnya ayanhku menyalahkan adikku karena DOWNLOAD yang berlebihan. Padahal speedy di rumah kami memakai kuota 15 jam. Jadi berapa giga pun yang dia download harusnya tidak masalah selama masih di dalam batas 15 jam. Karena itu aku lalu sedikit berdebat dengan orangtuaku, Dan hasilnya beberapa bulan kemudian ayahku kembali memasang speedy di rumah kami. Semua pun kembali ONLINE ONLINE seperti sedia kala.

GENIA FESTIVAL : Kisah Dibalik Diterimanya Aku di IT Telkom (4)

Setelah dari kamar mandi, aku kemudian duduk di barisan paling belakang dan mulai mengerjakan soal, seperti biasa peraturan salah -1 tidak kuhiraukan, karena betul +4. Alasannya sederhanya, satu soal betul bisa mengalahkan tiga soal salah, dan aku tetap dapat poin +1, jadi kukerjakan semua soal yang ada, dan tidak lama kemudian waktu selesai. Acara selanjutnya adalah training motivasi dan sebagainya, aku sebenarnya sudah ingin pulang, tetapi temanku belum, dia ingin menunggu sampai hasil diumumkan. Waktu terus berjalan, tiba-tiba kepalaku ditepuk dari belakang oleh temanku yang lainnya, kata-katanya sampai saat ini tidak akan kulupakan,”Sangar nok koe, juara siji!”

Saat itu aku masih belum percaya, sampai namaku dipanggil lalu aku maju ke depan dan berdiri di atas panggung sebagai juara satu try out itu. Bagaimana bisa? Selalu itu yang ada dalam pikiranku, saat aku menerima formulir pendaftaran gratis IT Telkom sampai saat aku turun dari panggung. Mungkin kisah ini adalah bukti nyata dari kuasa Allah SWT, atau pembuktian dari teorema kesuksesan bahwa sukses adalah kombinasi yang unik dari bakat, usaha, dan keberuntungan. Formulir dari hadiah try out kemudian kugunakan untuk mendaftar di IT Telkom dan akhirnya aku diterima di sana. Walaupun aku juga diterima di banyak perguruan tinggi lain, kenapa aku memilih kuliah disini yang jauh dari rumah, aku juga belum tahu.

GENIA FESTIVAL : Kisah Dibalik Diterimanya Aku di IT Telkom (3)

"Tu, aku tak adus sek yo, enteni sek," kataku sembari menyambar handuk dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah mandi, ternyata godaan untuk tidak ikut try out masih belum berhenti. Temanku entah dapat ide darimana tiba-tiba menyetel lagu dari hapenya yang kusukai, dan masalahnya aku belum punya lagu yang itu. Kemudian aku bertanya pada temanku pakah dia membawa kabel data? Dan jawabannya ternyata ‘ya’. Langsung saja kunyalakan komputer dan prosese pengkopian lagu pun dimulai. Menyalakan komputer tidak sesulit saat men-shut down, setelah komputer nyala, ada saja hal yang bisa dilakukan. Hingga kemudian terdengar suara dari bawah, “Fizh, kamu jadi berangkat try out nggak?” Ternyata itu suara orangtuaku, langsung komputer kumatikan, dan aku bergegas turun. Aku tidak berani melihat ke arah jam, yang penting segera naik motor dan berangkat menuju Plasa Telkom tempat try out diadakan. Sampai disana suasana sudah sepi. Kami mengira try out sudah selesai, kemudian kami bertanya pada seseorang yang memakai jaket biru muda, ternyata orang itu mahasiswa IT Telkom. Dia berkata, karena hujan try out ditunda jadinya sekarang belum selesai, kami hanya terlambat. Hanya. Sesudah itu, aku malah bertanya kamar mandinya di sebelah mana. Orang itu lantas menujukkan tempatnya sambil mengingatkan agar tidak terlalu lama karena kami sudah sangat terlambat.

GENIA FESTIVAL : Kisah Dibalik Diterimanya Aku di IT Telkom (2)

Ujian dilaksanakan pada hari minggu di Plasa Telkom Jalan Pahlawan Semarang, try out diadakan jam 7.30 pagi, malam harinya tidak tahu kenapa aku malah tidak bisa tidur. Hingga jam satu malam aku masih terjaga, tidur saja susah apalagi untuk belajar. Bagiku try out besok hanya kugunakan untuk mengukur seberapa kemampuanku, itu saja, walaupun aku dengar Juara Satu-nya akan mendapat formulir pendaftaran IT Telkom gratis. Esok harinya sekitar jam tujuh pagi, aku dibangunkan oleh temanku melalui sms. "Woi, sido melu try out gak?", tanyanya. Kemudian aku membalas, "Yo sido, reneo mangkat bareng." Tidak lama kemudian temanku datang, aku masih dalam keadaan setengah terjaga, sedangkan dia sudah rapi dan siap untuk berangkat. Melihat aku masih enak-enakan tidur, temanku tidak mau kalah, lalu dia pun dengan enaknya bermain hape. Aku melihat jam, ternyata sudah pukul setengah delapan, kulihat di luar juga gerimis. Benar-benar saat itu seperti kami tidak diijinkan untuk ikut try out. Tetapi karena sudah mengeluarkan uang, akhirnya kami tetap bertekad untuk berangkat. Ya, kami harus tetap berangkat! Karena siapa tahu..

GENIA FESTIVAL : Kisah Dibalik Diterimanya Aku di IT Telkom (1)

Sekarang aku berkuliah di Institut Teknologi Telkom, alasan kenapa aku memilih berkuliah disini adalah sangat simpel. Begini ceritanya, waktu kelas tiga SMA , aku masih bingung ingin melanjutkan kuliah dimana. Hingga suatu hari datang sekelompok mahasiswa IT Telkom yang melakukan presentasi di kelasku. Aku dan temanku mengikuti seminar itu, jujur, waktu itu aku belum begitu tertarik. Mahasiswa itu lalu menjelaskan bahwa di IT Telkom ada banyak jurusan, salah satunya adalah IF dan SK. Kemudian karena aku menanyakan tentang perbedaan antara IF dan SK. Aku pun mendapat sebuah pin IT Telkom. Kemudian ada tawaran untuk mengikuti Try Out Seleksi Mahasiswa Baru IT Telkom, dengan biaya sebesar sepuluh ribu rupiah, saat itu entah kenapa aku malah merasa enggan untuk ikut try out, namun karena ajakan temanku dan dibayari olehnya, akhirnya aku ikut juga. Baca Selanjutnya.. ^^

GENIA FESTIVAL : Tahun Terakhir di SMA (2)

GENIA FESTIVAL
Kelas XI



Ternyata angka 4 masih terus mengikutiku sampai di kelas XI, bahkan kelas XII. Yah, akhirnya aku masuk IPA walupun dengan nilai mepet. Kelas XI apa ya yang kuingat? Oh, iya, di kelas ini kami piknik. Pada semester pertama kami satu sekolah pergi ke pulau dewata. Biarpun nampak seperti buang-buang uang tetap saja menyenangkan karena pergi bersama-sama. Saat di kelas dua ini juga aku menerima CD Ubuntu pertamaku langsung dari Canonical, dan di kelas dua ini juga aku berhasil lolos dalam seleksi Olimpiade TIK mewakili sekolah maju ke tingkat kota. Namun sayangnya, aku kalah seleksi dan hanya mendapat peringkat delapan. Namun bagiku itu adalah sebuah pengalaman yang berharga.







Kelas XII







Yah, ini adalah tahun terakhir di SMA. Hari-hariku dihabiskan dengan les-les dan les, supaya bisa lulus dan mendapatkan NEM yang bagus. Kelas tiga merupakan kelas yang penuh kenangan di sinilah saat-saat aku merasakan perubahan mental dari anak kecil menjadi seseorang yang mulai mengerti tentang kehidupan. Halah. Hahaha

GENIA FESTIVAL : Surat Perpisahan Buat Teman

Kupegang lembaran yang mulai menguning, bertuliskan "Jadwal Pelajaran Tambahan Kelas XII." Datang ke dalam pikiranku, waktu cepat sekali berlalu, ya kan? Secepat itulah juga aku harus memacu langkahku agar tidak tertinggal di era gila ini, tapi apakah bisa? Sekarang kusadar aku tidak bisa terus-terusan berlari sendirian...



Mengingat saat-saat membantu membersihkan flashdisk teman dari virus, mengumpulkan tugas database access kelas XI, sepertinya nantinya aku tidak bisa jauh dari hal-hal semacam itu.. Walau kurasa hal semacam itulah yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini.



Banyak hal yang menyenangkan, siang sampai sore main Guitar Hero di rumah Repper padahal besok ujian penjurusan masuk IPA, makan sahur di poskamling dekat rumah Setiaji dan tidak membangunkan teman yang masih tidur di dalam rumahnya, kebut-kebutan Pemuda - Pedurungan jam satu malam dengan Tu dan Sabeh walau besok ada tambahan jam ke-nol. Semuanya benar-benar menyenangkan.



Bayangkan di depanmu ada sebuah cermin besar, namun tertutup oleh lapisan debu yang sangat tebal dan lapisan itu sangat susah dihilangkan. Aku mencoba keras membersihkannya hingga debu nya beterbangan dan mengenai orang lain, membuat mereka marah. Namun, setelah cermin itu bersih, aku bisa melihat diriku yang tidak sempurna. Diriku yang selama ini dilihat orang lain dan luput dari pandanganku sendiri. Ternyata selama ini pandangan orang lain terhadap diriku berbeda dengan pandanganku terhadap diriku sendiri...



Sembilan tahun yang lalu aku pindah ke Semarang, dan sembilan tahun kemudian aku harus pergi menuju kota lainnya..



Kubaca lagi sms dari temanku, "Dhewe kapan neng Jepang?", "Neng Jepang ki kutho sing ono mesjide opo? Ben afdol wae nek ngko berhasil rono!"



The Journey Has Begin. Seribu mil dimulai dengan Satu Langkah.



Terima Kasih atas semuanya ya. Selamat Tinggal Semarang.

Terima Kasih Genia

Tutorial Belajar Android