TWOH's Engineering

TWOH's Engineering
belajar tutorial android dan java

Friday, February 5, 2010

Sebuah Omong Kosong dan Keindahan Stereogram

Sekretaris bisa menjadi bos. Tetapi seorang bos tidak bisa menjadi sekretaris.



Forcing conversation also qualifies as another form of desperate
interest.
Me: "What's your name?"
Her: "Kate."
Me: "Where are you from?"
Kate: "Sumatra."
Me: "What part of Sumatran?"
Kate: "The Northern part."
Me: "Where."
Kate: "You wouldn't know it."
Me: "Come on, I’ve been all over."
Kate: "I gotta go."

I’m acting un-cool. But, if not forgivable, it’s
understandable. Once these question-trains get started they are
generally unstoppable. I'm asking a series of uninteresting,
close-ended questions and getting nothing unique in return. Yet I
show desperate interest by simply plowing on with more
questions.

Here is an improved version.
Me: "What's your name?"
Kate: "Kate."
Me: "Nice to meet you Kate. My name is Wayne. Give me
the rock."
(Laughing, Kate gives me the rock.)
Me: "Keep it green."
Her: "What?"
Me: "Nothing, I'll explain it later."
She giggles.
Me: "I like your laugh. Where are you from?"
Kate: "The northern part of Sumatra. Near the tip."
Me: "That's cool. I always wanted to visit there. Great
fishing, they say."
Kate: "Yeah, my dad runs a fishing boat."
Me: "That's it. I'm going fishing with your dad. Well, how
in the world did you end up in Bandung, West Java?"
Kate: "It's a long story."
Me: (looking at my watch) "I’ll give you five minutes. I'm all
ears."
Kate: (smiling) "Well my sister moved to..."

I’m not forcing conversation here. I’m sandwiching my questions between rewards and statements about myself. I’m
also careful not to double up questions. All together these things
make her feel comfortable enough to say and do some unique
things, which in turn allows me to show some genuine interest.

Portray yourself as a desirable man who is interested
in the unique qualities of a woman and not generically
interested in women.




Itulah sedikit kutipan dari e-book karangan Wayne Elise yang baru kubaca beberapa halaman. Intinya adalah perbandingan antara mereka yang pintar bermain kata dengan mereka yang kurang pintar bermain kata. Haah, kurebahkan badanku sembari tiduran memandang langit-langit kamar, tiba-tiba hapeku bergetar. Ternyata ada sms dari seorang temanku,"Woy, jadi kan? Gw udah di depan rumah lu!" Kulihat ke jendela, ternyata benar si NeverTiredforApproachingWoman(Neawo) sudah standby di depan rumah. Orang jawa, tapi bahasa jakarta. haha "Mlebuo, aku tak adus sek!", teriakku dari dalam.

"Jadi kemana kita bro?", tanyaku di perjalanan. "Yeah, seperti yang kubilang kemarin! Haha.. ."

Kemarin?? Hmm, kucoba mengingat-ingat. Oh iya, semua bermula dari pertemuan kami dengan seorang teman yang kuliah di Politeknik. Entah karena apa pembicaraan kami menuju ke gadis-gadis yang nantinya menjadi sekretaris dan akuntan,"Rok mereka..." Begitulah kata temanku, dan kami akhirnya sampai di sini untuk mebuktikannya. Di prodi D3 Komputerisasi Akuntansi.

Sampai di Politeknik, kuajak temanku ke kantin untuk makan. Maklum sudah siang dan tadi pagi aku baru sarapan sedikit. Setelah makan, datanglah temanku yang kuliah di Politeknik, "Ayo bro, waktu kalian tepat. Sekarang waktunya mereka selesai kuliah. C'mon!" Aku dan Neawo pun beranjak dari kantin dan mengikuti teman kami yang akan menunjukkan kelas tempat D3 Komp. Akuntansi. Sial, aku sebenarnya merasa malas, apalagi aku tidak punya kenalan ataupun koneksi di sini. Tapi apa boleh buat, sekali-kali melihat kondisi Politeknik di kota sendiri tidak apa-apa kan, apalagi setelah ini katanya kami akan di ajak melihat UKM radio kampus di politeknik ini. Mereka mengudara, tetapi tidak memiliki pemancar. Itulah yang membuatku penasaran.

Kami berjalan.. dan akhirnya hampir sampai di tempat tujuan. Bersamaan dengan itu, beberapa orang mahasiswi sudah keluar dari kelas. Mereka cantik-cantik dan stylish. Mengenakan blouse lengan pendek, rok di atas lutut, dan sepatu high heels. "Sepertinya bos-bos sekarang menginginkan sekretaris semacam ini, kasian istri mereka.. haha," pikirku dalam hati.

Melihat semua itu, tiba-tiba temanku berkata,"Sial, kenapa atmosfernya jadi gak enak gini.. ." Dia pun nampak sedikit grogi. Satu rombongan, dua rombongan mahasiswi lewat, dan kami cuma terpaku menatap mereka. We are just a bunch of coward! Aku lantas mencari tempat duduk dan kami mendapat bangku panjang tepat manghadap koridor di mana para mahasiswi lalu-lalang. Kami briefing sedikit,"Ne, katakan padaku, apa tujuan awal kita ke sini? Apa??"
"Yeah... mencari kenalan!," jawab Neawo.
"Kalau begitu sebagai laki-laki bukannya matipun kita harus bisa mencapai tujuan itu, kan ya..!", kataku lagi menyemangati.
"Yeah.. I'm confident.. I'm confident.. JUst be YOURSELF! Be Confident!!", Neawo mulai mengucapkan kata-kata pembangkit semangat dan mindsetnya.
Kupikir semua baik-baik saja. Tetapi 15 menit berlalu dan belum ada satupun dari kami yang mengetahui satupun nama dari mahasiswi-mahasiswi yang cantik juga stylish itu. Kelas pun sepi, dan kami akhirnya pulang. Di perjalanan kami menyesali kepengecutan masing-masing.
"Sial Twoh, kenapa lu juga diem aja tadi?", tanya Neawo. "Sudah kubilang aku ingin mengamati dulu, kalo ada yang menarik baru bertindak.. haha,"kataku beralasan. Mana mungkin kukatakan kalau yang seperti ini tidak intelek. Tiba-tiba Neawo mengatakan sesuatu,"Kalau kita hanya duduk tadi, itu nyaman ya?"
"Apa maksudmu?"

"Kebanyakan pria lebih memilih untuk tidak meninggalkan zona nyaman (comfort zone), mereka selalu takut untuk mendekati zona berbahaya. Seperti kita tadi, hanya duduk melihat adalah zona nyaman menurut kita karena kita bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi. Sedangkan para mahasiswi itu bukan zona nyaman, saat kita mendekati mereka kita nggak tahu gimana reaksi mereka bakalan. Padahal di situlah letak tantangannya!"

Mendengar perkataan dari Neawo aku jadi sedikit mengerti. Kurasa di contoh sehari-hari pun banyak seperti itu, mereka yang hanya bermain di zona nyaman. Di bidang bisnis banyak contohnya, misal seorang direktur kebanyakan enggan meninggalkan jabatannya, atau seorang karyawan yang sukses sulit menentukan pilihan untuk pidah pekerjaan. Mereka berpikir, "Kami sudah nyaman dengan kondisi seperti ini." Mereka tidak tahu kalau ada banyak posisi yang lebih baik dari posisi mereka saat itu. Orang yang berani keluar dari comfort zone adalah orang yang sukses, karena mereka risk-taker, berani mengambil resiko.

Kami pun terus berjalan menuju UKM Radio Kampus, di sana kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan oleh seorang perempuan sambil tersenyum ramah,"Temennya An, silahkan masuk aja." Namun kami menolak ajakannya, karena langit telah kelabu dan kami lupa bawa mantel. Saatnya pulang.

"Dari mana saja kamu sms nggak dibales~"
"Tadi jalan-jalan sebentar ma temen"
"Kemana~?"
"Ke Politeknik, cewek disana cantik-cantik juga ternyata.. Haha"
"..., Yah, waktu saya kuliah di Sekolah Tinggi temen satu kos saya juga selalu berdandan cantik sekali, mahasiswi ST Perbankan."
"..."
"Mereka memang lebih cantik dari anak-anak Universitas yang kebanyakan nampak lugu. Tapi, otak mereka siapa tahu~?"
"Haha.."
"...itu semua tergantung pilihanmu, mau cari yang cantik tapi otak pas-pasan atau kebalikannya?"
"Hmm, yah.. Tentu saja yang.."
".. tapi yang terpenting dari semua itu, kau tahu? Mereka yang memiliki Inner Beauty adalah yang paling cantik.."
"Maksudnya?"
"Saat kau memandang wajahnya, semakin lama, semakin kau menyukainya, semakin menyenangkan~"
"Kelihatannya simple, tapi susah ya? Saat ini, cuma kamu"

Kuakhiri percakapan itu dan mengambil buku 3D Stereogram, kuperhatikan gambar yang acak-acakan dan tak beraturan itu. Kuperhatikan terus, lama-lama muncul sebuah gambar yang sangat menakjubkan, yang sangat indah. Akhirnya aku bisa melihat keajaiban dari sebuah stereogram, keindahan yang muncul dari sesuatu yang abstrak dan kabur.




Tutorial Belajar Android