TWOH's Engineering

TWOH's Engineering
belajar tutorial android dan java

Friday, February 5, 2010

CopasMan -Para Manusia Copy Paste-

Hai bertemu lagi dengan twoh.

Kita sudah membahas soal DownloadMan, CopyMan dan UploadMan. Lalu apa masih ada yang kurang? Ya tentu saja masih, kali ini suatu kaum yang disebut CopyPaster, atau singkatnya CopasMan.

Kata copas yang sudah tidak asing lagi di telinga kita berasal dari kata COPY/Salin, dan PASTE/Tempel.

Copas tidaklah lebih tinggi derajatnya dari pembajakan, tapi mungkin lebih ringan karena biasanya sesuatu yang dicopas bukanlah sesuatu yang berharga mungkin sekadar Notes milik teman Facebook, postingan seseorang di forum, atau berita menarik dari sebuah web di JejaringJagadJembar.

Tapi, Copas tetap merupakan perbuatan amoral dan keji dengan tidak menghargai hak cipta dari karya orang lain.

"Ah ini bagus! Perlu di-share!",dibalik perlindungan kata-kata itulah para CopasMan menjalankan aksinya, walaupun sudah tersedia berbagai tombol bagi-pakai(share) di Facebook, Digg, Del.icio.us, dan Twitter. CopasMan tetap cuma tersenyum kecil, menganggap tombol itu tidak pernah ada dan menjalankan tiga mantera ampuh, Block, Ctrl-C, dan Ctrl-V.

Awalnya adalah huruf, huruf dirangkai menjadi kalimat, kalimat dirangkai menjadi paragraf, dan paragraf dirangkai menjadi sebuah artikel. Terkadang untuk membuat sebuah artikel penulis membutuhkan tak sedikit keringat demi merangkai kata satu-persatu, juga terkadang mereka bersedia jauh-jauh ke tempat peristiwa demi mendapat informasi. Tapi, CopasMan dengan tega dan sadar, menyalin semua ide digital itu, bahkan tanpa ekspresi sedikitpun.

Lihat! Lihatlah Notes Facebookmu, Artikel di situsmu! Apakah mereka benar-benar karyamu sendiri? Atau mereka hanyalah CopasMatters yang berupa sampah artikel kloningan dari berbagai IP address? Tulisan Copas-copas itu, bahkan walaupun bagus tetap tidak bisa menunjukkan jatidiri asli sang penulis, karena penulis hanyalah seorang CopasMan. Yang bahkan mereka belum membaca artikel asli sampai selesai, dan mendahulukan ritual Merry CopyPaste.

Berapa banyak orang yang mau membayar 90.000 rupiah untuk menonton grup band baru yang berjuang untuk bisa konser demi membawakan lagu-lagu aslinya, dibandingkan dengan tiket seharga 100.000 rupiah untuk menonton, band lokal, sekali lagi band lokal, yang membawakan lagu-lagu dari PeterPan, KangenBand yang sudah terkenal? Anda semua tahu jawabannya, mereka Copas, tapi mereka -tidak menang-, mereka cuma beruntung.

Sekali lagi, Copas tidak menunjukkan karakter, mereka menujukkan karakter, tapi karakter seorang peniru. Seseorang yang senang euforia sesaat, saat dimana dirinya menulis artikel Copas, membaginya ke orang lain, dan orang lain ikut-ikutan membahas artikel Copas itu bersama sang CopasMan! Setelah euforia sesaat itu hilang, mereka meninggalkan artikel tersebut begitu saja, di Notes, di Website, di Blog. Karena tidak menulis sendiri mereka jadi tidak mempunyai kesan atas artikel itu, melainkan cuma kesenangan sesaat yang cepat habis, dan membuat mereka ingin segera melakukan aksinya lagi. Hail CopasMan!

Kaum ini haus akan validasi, haus akan pengakuan orang lain atas dirinya. Sebenarnya artikel para CopasMan bagus, cuma mereka tidak percaya diri. Sehingga CopasMan cenderung mencari artikel, ide, karya, dan bahkan LINK, yang sudah terkenal, dan kemudian membagi-pakai ke orang lain. Mereka senang melihat orang lain mengetahui sesuatu setelah dirinya, atau berkat dirnya orang lain tahu sesuatu itu.

Penulisan sumber tidak banyak membantu, Detik.Com, Mashable, VivaNews, Kompas.com, link, originally posted by. Semua itu hanyalah pembenaran dari apa yang mereka lakukan, dan pembuktian atas artikel mereka yang dari auranya sudah aura Copas. Adakalanya CopasMan tidak menuliskan sumber, reader/seer yang teliti akan mencoba bertanya,"Iki ndak gawe dhewe?" Ditanya seperti itu, CopasMan cuma tersenyum kecil, melihat status pengomentar yang 'Single', kemudian tertawa terbahak-bahak.

Adakalanya juga mereka menunggu dahulu komentar tersebut sampai banyak, kemudian membeli rokok di warung, mengcopas berbagai artikel lain, dan membaginya ke orang yang sama. CopasMan biasa menjawab dengan alih-alih:

"Ini copas dari mana gitu lupa url nya"
"Copas dumz, gaya bahasanya bukan gaya bahasa gw"
"Yoi, yang penting menarik kan?"
"Gw cuman share artikel(copas) yang menurut gw menarik"

Aaarrrrghh! Be Creative Man!

CopasMan merupakan turunan dari CopyMan, jika CopyMan mengcopy sesuatu untuk dirinya sendiri, CopasMan cenderung mengcopy sesuatu untuk orang lain, tetapi ujung-ujungnya untuk dirinya sendiri juga. Lalu, gimana solusinya jika ingin berbagai-pakai sesuatu ke orang lain tanpa Copas? Ada banyak cara yang lebih baik.

Diantaranya adalah REMAKER, menulis ulang dengan bahasa sendiri, kadang REMAKER yang baik tetap menyertakan sumber artikel/ide asli, kemudian REVIEWER, mereview bacaan atau kejadian atau barang, beberapa paragraf memang Copas tapi REVIEWER menuliskan pendapat atau opininya sendiri, seakan-akan dia membahas ulang kembali karya tersebut, kemudian TRACKBACKER, berupa kesimpulan singkat dari artikel asli, yang mana ketika reader/seer ingin membaca lengkap artikel itu mereka harus menuju ke sumber aslinya sendiri, dan yang terakhir mungkin menggunakan tombol bagi-pakai yang ada.

Sekali lagi, CopasMan ada di sekitar kita. Mereka banyak, dan merupakan bagian dari tatanan sosial di kehidupan dan budaya bermasyarakat kita. CopasMan menjelma menjadi siapapun yang menurut mereka pantas ditiru dan idenya pantas di Copas. Orang yang ditiru boleh senang karena mereka menjadi TRENDSETTER. Namun adakalanya CopasMan dan TrendsetMan adalah orang yang sama. Itulah yang disebut konspirasi. Konspirasi itu ada, di berbagai bidang dan di berbagai tempat.

-twoh-

orang tiruan




UploadMan & Mereka yang Berkonspirasi

Kita belum membahas satu lagi kaum di dalam lingkaran konspirasi Downloadman & Copyman, yaitu Uploadman atau sebutan kerennya:

mereka yang mengunggah


Kaum ini terdiri dari orang-orang yang jenius dan kreatif, mereka introvert, spesial, dan cenderung temperamen. Profesi mereka bermacam-macam, ada yang programmer, blogger, desainer grafikker, commenter/argumenter, dan sebagainya. Namun mereka semua tertutupi oleh satu topeng yang sama, UploadMan.

Bagaimana mereka semua bisa disebut UploadMan? Bukan, bukan cuma mereka, kita juga mungkin seorang UploadMan. Yang harus dilakukan hanya satu, mengunggah sesuatu ke internet dan membuat file tersebut bisa diakses orang lain.

Wadah dan wadah! Hanya kata itu yang ada dalam otak mereka, seakan mereka tidak puas lagi dengan wadah dan publikasi yang biasa menampung kreativitas mereka di dunia nyata. Tulisan atau listing program mereka muncul di banyak media cetak seperti, surat kabar, tabloid, dan majalah. Wajah mereka juga tak jarang muncul di acara TV, namun mereka seakan tak puas dengan semua itu selama mereka belum mendapat wadahnya sendiri di JejaringJagatJembar(WorldWideWeb).

Namun ada juga diantara Uploadman yang tidak begitu terkenal, mereka tidak/belum pernah muncul di mana-mana. Mereka hanya bisa mengupload suatu tulisan karyanya ke dalam WWW, inilah yang disebut Blogger atau Social Networker. Terkadang kaum Blogger atau Social Networker berbuat sesuatu yang keji dan masuk ke dalam golongan CopyMan, mereka disebut CopyPasters, mereka kaum yang tidak dihargai karena mencari pengakuan dan validasi dengan memanfaatkan sebuah tulisan karya orang lain.

Kembali ke Uploadman!

Kata shared, sharing, share, hosting, source, post adalah nyawa dan identitas mereka. Apalagi jika ditambah satu kata, yaitu "free". UploadMan merasa kurang kalau belum bisa berbagi dengan yang lain sesuatu yang ada di harddisk mereka.

Unggah program, unggah gambar, unggah opini, unggah file mp3, unggah video, unggah apapun yang merupakan hasil karya mereka atau hasil karya orang lain yang belum pernah dipublikasikan. Berbeda dengan kata Download atau Copy, kata Upload cenderung bermakna mulia. Merekalah sumber, produsen. Dan jika dianalogikan dengan rantai makanan, UploadMan adalah tumbuhan. Uploadman sejati bila yang mereka hasilkan benar benar bersumber dari otak dan akal mereka.

Tapi ada juga UploadMan jahat yang mengunggah sesuatu yang berbahaya, seperti virus. Mereka didukung dengan bot-bot yang berasal dari jutaan komputer, memiliki website memikat yang di baliknya mengintai dengan tenang si virus, menunggu sang DownloadMan datang. Dan di saat CopyMan menancapkan perangkat penyimpanan data ke komputer DownloadMan, karya mereka pun tersebar luas!

Mereka dilawan dengan UploadMan yang baik, sesuatu yang mereka unggah bernama anti-virus. Tapi UploadMan jahat kadang tidak habis akal, mereka mengubah virus tersebut menjadi gambar, video, musik, bahkan menjadi anti-virus itu sendiri.

UploadMan ada di sekitar kita, tergabung ke dalam tatanan kehidupan sosial -nyata maupun maya-, mereka berkedudukan setara dengan DownloadMan tapi tidak dengan CopyMan. Kadang UploadMan, DownloadMan dan CopyMan adalah orang yang sama. Contohnya, saat seseorang mengcopy source code program orang lain, lalu meng-upload program yang telah mereka perbarui ke www, kemudian jika program itu dimodifikasi oleh orang lain, mereka me-download-nya kembali untuk diperbaiki lagi, begitu seterusnya. Semua itu membentuk mata rantai Upload-Download-Copy yang sangat erat dan tidak akan pernah putus. Itulah yang disebut konspirasi tingkat tinggi.

Sebuah Omong Kosong dan Keindahan Stereogram

Sekretaris bisa menjadi bos. Tetapi seorang bos tidak bisa menjadi sekretaris.



Forcing conversation also qualifies as another form of desperate
interest.
Me: "What's your name?"
Her: "Kate."
Me: "Where are you from?"
Kate: "Sumatra."
Me: "What part of Sumatran?"
Kate: "The Northern part."
Me: "Where."
Kate: "You wouldn't know it."
Me: "Come on, I’ve been all over."
Kate: "I gotta go."

I’m acting un-cool. But, if not forgivable, it’s
understandable. Once these question-trains get started they are
generally unstoppable. I'm asking a series of uninteresting,
close-ended questions and getting nothing unique in return. Yet I
show desperate interest by simply plowing on with more
questions.

Here is an improved version.
Me: "What's your name?"
Kate: "Kate."
Me: "Nice to meet you Kate. My name is Wayne. Give me
the rock."
(Laughing, Kate gives me the rock.)
Me: "Keep it green."
Her: "What?"
Me: "Nothing, I'll explain it later."
She giggles.
Me: "I like your laugh. Where are you from?"
Kate: "The northern part of Sumatra. Near the tip."
Me: "That's cool. I always wanted to visit there. Great
fishing, they say."
Kate: "Yeah, my dad runs a fishing boat."
Me: "That's it. I'm going fishing with your dad. Well, how
in the world did you end up in Bandung, West Java?"
Kate: "It's a long story."
Me: (looking at my watch) "I’ll give you five minutes. I'm all
ears."
Kate: (smiling) "Well my sister moved to..."

I’m not forcing conversation here. I’m sandwiching my questions between rewards and statements about myself. I’m
also careful not to double up questions. All together these things
make her feel comfortable enough to say and do some unique
things, which in turn allows me to show some genuine interest.

Portray yourself as a desirable man who is interested
in the unique qualities of a woman and not generically
interested in women.




Itulah sedikit kutipan dari e-book karangan Wayne Elise yang baru kubaca beberapa halaman. Intinya adalah perbandingan antara mereka yang pintar bermain kata dengan mereka yang kurang pintar bermain kata. Haah, kurebahkan badanku sembari tiduran memandang langit-langit kamar, tiba-tiba hapeku bergetar. Ternyata ada sms dari seorang temanku,"Woy, jadi kan? Gw udah di depan rumah lu!" Kulihat ke jendela, ternyata benar si NeverTiredforApproachingWoman(Neawo) sudah standby di depan rumah. Orang jawa, tapi bahasa jakarta. haha "Mlebuo, aku tak adus sek!", teriakku dari dalam.

"Jadi kemana kita bro?", tanyaku di perjalanan. "Yeah, seperti yang kubilang kemarin! Haha.. ."

Kemarin?? Hmm, kucoba mengingat-ingat. Oh iya, semua bermula dari pertemuan kami dengan seorang teman yang kuliah di Politeknik. Entah karena apa pembicaraan kami menuju ke gadis-gadis yang nantinya menjadi sekretaris dan akuntan,"Rok mereka..." Begitulah kata temanku, dan kami akhirnya sampai di sini untuk mebuktikannya. Di prodi D3 Komputerisasi Akuntansi.

Sampai di Politeknik, kuajak temanku ke kantin untuk makan. Maklum sudah siang dan tadi pagi aku baru sarapan sedikit. Setelah makan, datanglah temanku yang kuliah di Politeknik, "Ayo bro, waktu kalian tepat. Sekarang waktunya mereka selesai kuliah. C'mon!" Aku dan Neawo pun beranjak dari kantin dan mengikuti teman kami yang akan menunjukkan kelas tempat D3 Komp. Akuntansi. Sial, aku sebenarnya merasa malas, apalagi aku tidak punya kenalan ataupun koneksi di sini. Tapi apa boleh buat, sekali-kali melihat kondisi Politeknik di kota sendiri tidak apa-apa kan, apalagi setelah ini katanya kami akan di ajak melihat UKM radio kampus di politeknik ini. Mereka mengudara, tetapi tidak memiliki pemancar. Itulah yang membuatku penasaran.

Kami berjalan.. dan akhirnya hampir sampai di tempat tujuan. Bersamaan dengan itu, beberapa orang mahasiswi sudah keluar dari kelas. Mereka cantik-cantik dan stylish. Mengenakan blouse lengan pendek, rok di atas lutut, dan sepatu high heels. "Sepertinya bos-bos sekarang menginginkan sekretaris semacam ini, kasian istri mereka.. haha," pikirku dalam hati.

Melihat semua itu, tiba-tiba temanku berkata,"Sial, kenapa atmosfernya jadi gak enak gini.. ." Dia pun nampak sedikit grogi. Satu rombongan, dua rombongan mahasiswi lewat, dan kami cuma terpaku menatap mereka. We are just a bunch of coward! Aku lantas mencari tempat duduk dan kami mendapat bangku panjang tepat manghadap koridor di mana para mahasiswi lalu-lalang. Kami briefing sedikit,"Ne, katakan padaku, apa tujuan awal kita ke sini? Apa??"
"Yeah... mencari kenalan!," jawab Neawo.
"Kalau begitu sebagai laki-laki bukannya matipun kita harus bisa mencapai tujuan itu, kan ya..!", kataku lagi menyemangati.
"Yeah.. I'm confident.. I'm confident.. JUst be YOURSELF! Be Confident!!", Neawo mulai mengucapkan kata-kata pembangkit semangat dan mindsetnya.
Kupikir semua baik-baik saja. Tetapi 15 menit berlalu dan belum ada satupun dari kami yang mengetahui satupun nama dari mahasiswi-mahasiswi yang cantik juga stylish itu. Kelas pun sepi, dan kami akhirnya pulang. Di perjalanan kami menyesali kepengecutan masing-masing.
"Sial Twoh, kenapa lu juga diem aja tadi?", tanya Neawo. "Sudah kubilang aku ingin mengamati dulu, kalo ada yang menarik baru bertindak.. haha,"kataku beralasan. Mana mungkin kukatakan kalau yang seperti ini tidak intelek. Tiba-tiba Neawo mengatakan sesuatu,"Kalau kita hanya duduk tadi, itu nyaman ya?"
"Apa maksudmu?"

"Kebanyakan pria lebih memilih untuk tidak meninggalkan zona nyaman (comfort zone), mereka selalu takut untuk mendekati zona berbahaya. Seperti kita tadi, hanya duduk melihat adalah zona nyaman menurut kita karena kita bisa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi. Sedangkan para mahasiswi itu bukan zona nyaman, saat kita mendekati mereka kita nggak tahu gimana reaksi mereka bakalan. Padahal di situlah letak tantangannya!"

Mendengar perkataan dari Neawo aku jadi sedikit mengerti. Kurasa di contoh sehari-hari pun banyak seperti itu, mereka yang hanya bermain di zona nyaman. Di bidang bisnis banyak contohnya, misal seorang direktur kebanyakan enggan meninggalkan jabatannya, atau seorang karyawan yang sukses sulit menentukan pilihan untuk pidah pekerjaan. Mereka berpikir, "Kami sudah nyaman dengan kondisi seperti ini." Mereka tidak tahu kalau ada banyak posisi yang lebih baik dari posisi mereka saat itu. Orang yang berani keluar dari comfort zone adalah orang yang sukses, karena mereka risk-taker, berani mengambil resiko.

Kami pun terus berjalan menuju UKM Radio Kampus, di sana kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan oleh seorang perempuan sambil tersenyum ramah,"Temennya An, silahkan masuk aja." Namun kami menolak ajakannya, karena langit telah kelabu dan kami lupa bawa mantel. Saatnya pulang.

"Dari mana saja kamu sms nggak dibales~"
"Tadi jalan-jalan sebentar ma temen"
"Kemana~?"
"Ke Politeknik, cewek disana cantik-cantik juga ternyata.. Haha"
"..., Yah, waktu saya kuliah di Sekolah Tinggi temen satu kos saya juga selalu berdandan cantik sekali, mahasiswi ST Perbankan."
"..."
"Mereka memang lebih cantik dari anak-anak Universitas yang kebanyakan nampak lugu. Tapi, otak mereka siapa tahu~?"
"Haha.."
"...itu semua tergantung pilihanmu, mau cari yang cantik tapi otak pas-pasan atau kebalikannya?"
"Hmm, yah.. Tentu saja yang.."
".. tapi yang terpenting dari semua itu, kau tahu? Mereka yang memiliki Inner Beauty adalah yang paling cantik.."
"Maksudnya?"
"Saat kau memandang wajahnya, semakin lama, semakin kau menyukainya, semakin menyenangkan~"
"Kelihatannya simple, tapi susah ya? Saat ini, cuma kamu"

Kuakhiri percakapan itu dan mengambil buku 3D Stereogram, kuperhatikan gambar yang acak-acakan dan tak beraturan itu. Kuperhatikan terus, lama-lama muncul sebuah gambar yang sangat menakjubkan, yang sangat indah. Akhirnya aku bisa melihat keajaiban dari sebuah stereogram, keindahan yang muncul dari sesuatu yang abstrak dan kabur.




Kesalahpahaman Tentang Konsep Be Yourself

Pagi ini, kubaringkan tubuhku yang merasa letih sehabis perjalanan jauh dari Semarang.

Kasurku yang tingginya hanya 30 sentimeter membuat mataku leluasa melihat buku-buku yang berserakan di lantai dan belum sempat kutata.

Sebuah buku tua berwarna hijau pucat membawa pikiranku mengambang ke masa kelas dua SMA.



Malam itu, malam sebelum seleksi perlombaan Sains.

Tim dari sekolah kami mengirimkan Tri Murdha dan aku, untuk mengikuti seleksi tersebut. Sebuah perlombaan seleksi tingkat kota yang sederhana, namun memberiku kesan tersendiri tentang pandangan orang lain terhadap sesuatu.

Jika salah nilai -1, jika benar nilai +3, kosong nilai 0

"Wah, mending kita kerjakan yang pasti kita bisa kerjakan. Aku cari aman sajalah," begitu jawab Tri sewaktu kutanyakan tentang caranya menjawab soal.

Jam pun memaksa kami untuk masuk ke dalam ruangan dan mulai mengerjakan soal. Sungguh waktu tiga jam terasa begitu cepat, sampai akhirnya bel tanda waktu berakhir dibunyikan.

Temanku Tri adalah orang yang cerdas, namun dia terlihat berkeringat seusai mengerjakan soal-soal itu. Ternyata dia hanya mengerjakan setengah dari jumlah soal yang ada, ketika kutanya kenapa, dia berkata kalau dia cuma mengerjakan apa yang dia yakin benar seperti katanya tadi.
Dia tidak melakukan apa yang kusarankan, yaitu mengisi lima nomor berurutan dengan satu opsi yang sama.. hehe.

Itu salah satu ilustrasi tentang konsep jadilah dirimu sendiri.

Setiap orang mempunyai konsep be yourself sendiri. seperti temanku Tri.

Tapi dari kebanyakan konsep yang aku tangkap dari lingkungan sekitar, be yourself adalah suatu keadaan dimana seseorang merasa nyaman dengan keadaannya, dan tidak mau tahu tentang pendapat orang lain, karena menurut dia ini adalah yang terbaik buat dia. Setiap orang punya cara hidup masing-masing dan meniru cara pandang orang lain adalah suatu kebodohan, merubah kebiasaan adalah tidak nyaman dan sakit...begitu kurang lebihnya.

Kalau benar konsep be yourself seperti itu, aku bakalan mengajak berkelahi orang yang pertama kali mengajarkan itu konsep sampai dia menarik kembali apa yang sudah dia ajarkan.

Namun, konsep "be yourself" muncul dengan sendirinya dari pikiran orang-orang yang apatis dan tidak mau berubah.

Kalau kamu seorang yang menarik, kehidupanmu menarik, banyak orang yang menghormatimu karena kepintaranmu dan sikap rendah hati-mu, kuliah atau pekerjaanmu lancar, banyak orang yang mengantri pingin jadi pacarmu, dan apa yang kamu lakukan selalu maksimal dan membuat dirimu puas, orang tuamu juga bangga denganmu.. kamu boleh bilang "be yourself"

Tapi kalau kamu seseorang yang minder, jarang main keluar, kerjaannya cuma main Facebook, liat situs-situs porno, uang dihabiskan buat beli rokok, IP kuliah mu 2, nggak punya teman, pacaran ditinggal selingkuh, apa kamu merasa pantas memakai "konsep be yourself"?

Kamu pakai konsep be yourself cuma buat menghindar dari kesalahan aja..

Realitanya,



>>IP kamu 2 karena kamu tidak pernah belajar

>>Kamu minder karena dirimu tertutup dan tidak pernah belajar bergaul

>>Kamu tidak punya teman karena mungkin kamu tidak bisa menghargai orang lain atau nggak asik waktu diajak ngobrol

>>Pacar kamu selingkuh mungkin itu bukan salah dia, mungkin juga kamu yang salah, nggak bisa menghargai pasanganmu, nggak bisa mengerti dirinya, dan akhirnya dia pun kehilangan rasa nyaman darimu



Haah..

Memang mengubah kebiasaan itu sesuatu yang menyakitkan dan menyiksa tapi semua itu bakalan terbayar saat kamu menemukan dirimu menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.

Saat kamu belajar berjalan, berapa kali kamu jatuh?

Saat kamu belajar bersepeda, berapa kali kamu menabrak pohon, menabrak tembok, atau jatuh ke selokan?

Saat kamu belajar bermain gitar, seberapa sakit jari-jarimu?

Tapi,

Akhirnya kamu bisa berlari

Akhirnya kamu bisa ke kampus tepat waktu memakai sepeda motor

Akhirnya jari-jarimu mengeras hingga bisa menyanyikan lagu yang membuat dirinya senang



Dari banyak buku NLP, contohnya The New Technology of Achievement, sebenarnya cuma ada dua konsep sederhana yang membantu kita untuk belajar berubah menjadi yang lebih baik, dan ini beneran nggak mengada-ada

1. Apa yang orang lain bisa lakukan, kita juga bisa

2. Seseungguhnya kita sudah memiliki seluruh source atau modal untuk menjadi sesuatu yang kita inginkan

Kalau kamu belum yakin juga...

Aku itu orang yang percaya tentang mimpi.

Soekarno kalau tidak punya mimpi membuat bangsa Indonesia merdeka, kita nggak akan upacara setiap hari senin

Bill Gates kalau tidak bermimpi tentang satu komputer di setiap rumah, kita akan terus ke kantor pemerintah buat pakai komputer

Wright Bersaudara kalau nggak punya mimpi sederhana "ingin terbang seperti burung", kita nggak akan bisa melihat keindahan kota Bandung dari atas (kalau yang ini ngaku aku sendiri belum pernah lihat)


"Kita pasti bisa mendapatkan apa yang kita mau asalkan meyakininya"

Intinya selalu melakukan perubahan...dan mensyukuri setiap perubahan walaupun kecil

Waduh, nggak terasa laptop udah low-batt.

-twoh-

Be Your Best Self

Thursday, February 4, 2010

Hari Kelulusan!

Di suatu pagi yang cukup cerah, pagi hari dimana ujian nasional diumumkan. Pagi itu aku akan mengantar adikku yang masih kecil ke TK dekat rumah. Saat itu aku sedang mandi ketika tiba-tiba kudengar dering sms dari hp, berbagai pikiran lantas muncul di benakku. Apa isi dari sms tersebut, apakah tentang pengumuman hasil UNAS??



Aku ingat jam 5 pagi tadi status facebook teman-temanku sudah banyak menimbulkan kontroversial. Semacam, “Aku LULUS!”,”I'am the succes One...” dan lain-lainnya yang langsung ditanggapi dengan komentar, “Lho tahu darimana?”,”Emang sudah diumumin?” dan semacamnya. Selesai mandi bergegas segera kubuka Motorola RAZR V3i-ku, ternyata isinya adalah sms yang juga cukup kontroversial,”Murid-murid SMA 2 lulus 100%.”

Selesai mengantar adikku, aku kemudian menyalakan komputer dan mencoba untuk mengecek kelulusan lewat internet, ternyata masih belum ada data. Kemudian kulihat jam telah menunjukkan jam 10.00, saatnya menjemput adikku dari TK. Setelah itu kuniatkan diriku untuk berangkat ke sekolah mengecek kebenaran sms tersebut. Usai mengantarkan aku pulang, aku segera bergegas ke sekolah menggunakan motor Kharisma yang setia mendampingi di setiap langkahku. Hehe. Sesampainya di sana, kulihat teman-temanku masih menunggu di depan kelas. Daripada menunggu bersama mereka, aku lebih memilih untuk berjalan-jalan di depan ruang guru. Mungkin dengan melihat ekspresi wajah mereka, ada sesuatu yang bisa terungkap.

Di depan ruang guru aku malahan bertemu temanku, Reper. Dia berkata padaku bahwa dia juga mendapatkan sms kontroversial tersebut. Setelah beberapa saat berdebat mengenai kebenaran sms tersebut sambil diselingi gosip mengenai temanku yang berbuat mesum di warnet dengan pacarnya, aku pun memberanikan diri untuk mencoba bertanya pada seseorang guru yang sedang membawa setumpuk kertas.

ACTION MODE : ON

“Pak! Apakah benar adanya sms iiini haaaah........!!!”, kataku setengah berteriak sembari mendekatkan hapeku ke wajahnya. “Oaaakkh!!,” guru itu berteriak kaget,”Apa-apaan ini bocah!! Hape yang jelek..!” Dan Bruak!, hapeku terlempar karena tanganku dipukul oleh guru tersebut. “Aarghh!! Apa-apaan ini bapaaak! Rep cepat selamatkaaaaan!”, teriakku. Reper dengan sigap melompat dan melakukan sejumlah gerakan guling salto, dan, “Tep!”, hape ku berhasil diselamatkan. “Baapaaak!! Baca ini bapaak! Wuuuoooogh!!”, Reper berlari menyodorkan hapeku ke guru tersebut, namun nampaknya guru itu tak mau menyerah untuk membacanya begitu saja. “Kaaamu pikir seorang guru seperti sayaaa...!! Huooo!” Secara tidak terduga guru itu menyebarkan kertas-kertas yang dibawanya ke arah Reper, sehingga pandangannya menjadi tertutupi. “Kurang ajaar kau!!”, Reper membuka mulutnya lebar-lebar, mengambil udara dan “Wussshhhh!!”, sebuah semburan angin yang dahsyat membuat kertas-kertas tersebut hilang. Si guru terlempar ke belakang dan menabrak sebuah pot bunga hingga pecah berkeping-keping. Reper terus berlari ke arah si guru sambil menyodorkan hape ku, “Uwoooo..! Baca..! Bacaaa paaak!!.” “ Si..Siaaall kau bocaaah!!!”, guru tersebut bangun lalu mengeluarkan sebuah kertas. “HUH, lagi-lagi kertas! Dasar pendidik!!!”, ucap Reper sambil mempercepat larinya. “Khu khu. Hadapilah ini boocaaaaaahh!!! Nilaimu sendiriiii!! Uwwwoooo!!!” “Aa.. Apaaa??,” kami berdua seakan tak percaya. Dan setelah itu terdengar ledakan besar..

OFF

Ternyata guru itu tidak mau berkomentar apa-apa mengenai sms tersebut. Apa boleh buat, kami pun terpaksa menunggu pengumuman resminya. Sesaat kemudian terlihat wali kelasku keluar dari ruang guru. “Ayo fizh, ke kelas,” katanya singkat, namun jelas. Lantas aku tidak ingat apa-apa lagi, hanya kelebatan bayangan halaman depan kepala sekolah, Reper yang beranjak pergi, teman-temanku yang segera masuk ke dalam kelas begitu melihat kami datang, pintunya kelas, ruangan kelas, kursi-kursi cokelat, dan sepatah kata,”Sekolah kita lulus 100%...

Geografi Itu Penting

Mungkin banyak orang berpendapat bahwa kuliah di jurusan geografi itu susah untuk mencari kerja dan tidak banyak dibutuhkan, tapi lain halnya dengan bapakku yang menyuruhku untuk mengambil jurusan geografi saat mendaftar di universitas.

Sebelum aku berkuliah di jurusanku yang sekarang ini, aku diterima pada program studi Geografi di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. Namun kesempatan itu tidak aku ambil, karena Jakarta dan Yogyakarta itu kota yang panas. Aku lebih memilih kota yang dingin dan berhawa sejuk. Hehe..

Geografi itu penting untuk dipelajari karena Indonesia terletak pada ring of fire, yaitu suatu kawasan yang dikelilingi oleh banyak gunung berapi . Salah seorang temanku ada juga yang diterima pada jurusan Geografi Universitas Indonesia, dan dia mengambilnya. Padanya aku berkata bahwa nasib Indonesia terletak di tanganmu. Kemudian lulus SMA kami berpisah, dia ke Jakarta, aku ke Bandung.

Tidak lama di Bandung, Indonesia kemudian kembali dilanda gempa bumi, di Padang, Tasikmalaya, dan beberapa kota kecil lainnya. Saat gempa di Tasikmalaya, getarannya terasa sampai Bandung. Saat itu aku baru pulang kuliah dan akan masuk ke dalam kosan, baru mau masuk, entah kenapa orang-orang rumah tempat aku kos malahan pada keluar, dan sesaat kemudian aku baru sadar kalau ada gempa. Tanah mulai bergetar, orang-orang berteriak-teriak menyebut asma Allah.

Aku melihat ke atas, kabel listrik SUTET bergoyang-goyang kesana kemari, air di selokan berombak, dan rumah-rumah seakan mau rubuh. Sekitar 10-15 menit kemudian, akhirnya gempa berhenti. Beberapa bulan kemudian gempa melanda kota Padang dan sekitarnya. Saat itu aku merasa sadar bahwa penting bagi orang Indonesia untuk mempelajari Geografi. Tetapi aku tidak menyesal telah meninggalkan kesempatan untuk belajar geografi, karena jurusanku yang sekarang tidak kalah pentingnya untuk dipelajari, yaitu Computer Science/ Teknik Informatika. Walau begitu, aku masih suka geografi dan menonton Tokyo Magnitude 8.0.

Saat Saat Menerima Beasiswa

Suatu hari ayahku berkata, “Fis, kamu kucarikan beasiswa dari kantor bapak gimana?” Mendengar perkataan seperti itu tentu saja aku langsung berkata mau. Apalagi mengingat biaya kuliah di IT Telkom yang cukup mahal bagiku. Tentunya dengan mendapatkan beasiswa, maka aku bisa mengurangi biaya kuliah sekaligus membantu orang tua.




Maka setelah ujian nasional aku mempersiapkan diri untuk mendapatkan beasiswa itu, walaupun rasanya agak susah juga karena ada beberapa macam seleksi untuk mendapatkannya. Seleksi pertama adalah hasil ujian nasional, jika hasilnya bagus maka akan dilanjutkan ke seleksi kedua yaitu ujian tulis. Nah, inilah yang paling susah!

Sesudah pengumuman hasil ujian nasional yang melegakan. Segera ayahku mengirimkan copy nilai ke kantor untuk seleksi beasiswa, dan ayahku berkata kalau berhasil lolos nanti beliau akan diberitahu, kalau tidak lolos berarti tidak akan ada pemberitahuan. Hari demi hari, bulan demi bulan berlalu, namun tetap belum ada pengumuman dari kantor ayah. Kami pun sudah hampir lupa akan beasiswa itu dan aku sudah menetapkan tanggal berangkat ke Bandung, tanggal 1 Agustus. Sudah tidak ada lagi yang peduli tentang beasiswa. Ketika pada saat aku sedang membeli sate ayam di warung, ayahku mengirim sms, “Fis, kamu berangkat ke Bandungnya diundur. Soalnya kamu ada tes beasiswa!” Alhamdulillah, ternyata aku berhasil lolos seleksi pertama dan besok aku akan menjalani seleksi kedua yaitu tes tertulis!

Hari-hari menjelang tes tertulis pun dimulai. Karena hanya diberikan waktu kurang lebih satu minggu sampai tes dimulai. Aku menjadi kurang siap dalam belajar. Apalagi saat itu akhir bulan Juli, sudah sekitar tiga bulan dari saat terakhirku memegang buku pelajaran SMA. Ditambah lagi entah karena nervous atau malas belajar atau kecewa karena berangkat ke Bandung diundur, kecewa karena memikirkan kenapa pengumumannya harus diberitahukan lama sekali. Kenapa juga ujian harus tanggal satu. Alias, karena banyak pikiran. Aku pun jatuh sakit! Hehehe (Kenapa sakit kok malah ketawa?) Karena sakit aku pun hanya belajar seadanya, malah bisa dibilang tidak belajar. Hari demi hari kuhabiskan di tempat tidur. Hingga akhirnya tibalah tanggal 31 Juli, dan aku masih belum sembuh benar. Mau bagaimana lagi, besok sudah pasti aku mengerjakan tes tertulis seleksi beasiswa dengan tubuh kurang fit. Pagi harinya aku dianta bapak ke Hotel Santika Semarang, di sanalah tempat seleksi akan dilaksanakan. Tetapi kami tiba terlalu awal karena ternyata tes baur akan dilkukan sekitar 2 jam lagi. Pada saat itu mau tidak mau aku harus menunggu, sembari menunggu aku pun berbincang-bincang dengan seorang panitia tes. Iseng aku pun bertanya,”Pak, yang ikut seleksi beasiswa berapa orang?” Dan jawaban si bapak tidak kalah iseng,”Hmm, kalo sama kamu, totalnya yang ikut empat orang.” “A…Apa!”, kataku dalam hati. Mendengarnya aku sungguh kaget dan tidak berani menanyakan berapa jumlah yang akan diambil untuk mendapatkan beasiswa.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya para peserta tes mulai datang. Tiga orang laki-laki termasuk aku. Dan yang seorang lagi perempuan. Salah seorang yang laki-laki adalah lulusan STM dan katanya dia sudah pernah magang di hotel ini. Pantesan setiap berpapasan dengan pegawai hotel dia selalu menyapa. Kemudian tes pun dimulai, materinya adalah Pengetahuan Umum, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Soal yang relatif sulit adalah pengetahuan umum, karena siapa sangka pelajaran Sejarah ada di dalamnya! Walaupun begitu semua soal tetap kuselesaikan dan berusaha kukerjakan dengan baik. Setelah tes, kami pun makan siang bersama di kantin hotel. Kemudian aku pun pulang ke rumah untuk istirahat. Karena tanggal delapan aku harus segera pergi ke Bandung, untuk kuliah.

Sesampainya di Bandung, aku langsung berhadapan dengan sesuatu yang bernama PDKT. Tidak mempunyai teman cewek Berhadapan dengan lingkungan baru.. Semua itu membuatku lupa akan masalah beasiswa, hingga pada suatu hari. Entah hari apa aku lupa, aku mendapat sms dari bapakku yang isinya perihal beasiswa. Kubaca dan ternyata aku berhasil menerima beasiswa itu. Alhamdullilah! Mulai sekarang harus belajar giat!

Tutorial Belajar Android